SHOPPING CART

close

MELACAK JEJAK [TENGKORAK] DEMANG LEHMAN

Catatan: Merupakan tulisan Mansyur, S.Pd., M.Hum,  Pengajar di Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Tulisan ini telah dipresentasikan dalam Focus Group Discussion “Melacak Jejak [Tengkorak] Demang Lehman” yang diselenggarakan oleh Lembaga Stdi-Dayak-21 pada Jumat, 19 Maret 2021, di Fave Hotel (Ruang Madonna), Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 

Pengantar

Beberapa waktu lalu, santer berita di media online, Pemerintah Negara Belanda tengah melakukan riset. Riset ini sehubungan dengan keingintahuan Pemerintah Belanda tentang bagaimana respon masyarakat Banjar terhadap kemungkinan pengembalian tengkorak kepala Pahlawan Banjar, Demang Lehman. Kabar yang beredar, tengkoraknya kini tersimpan pada salah satu Museum di Negeri Kincir Angin. Riset tentu saja bukan bermaksud membuka luka lama. Menguak kembali tentang kekejian pemerintah kolonial terhadap “pemberontak” di wilayah koloninya. Pada sisi lain, ini tentunya preseden baik untuk memberikan menghargaan kepada syahidin Demang Lehman dengan pemakaman yang layak. Walaupun hanya tengkorak kepala yang badannya entah dimana kuburnya.

Bagi urang banua, tentunya memang tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Sepak terjangnya di medan laga, hingga prinsipnya yang rela mati demi bangsanya pada tiang gantungan di Alun Alun Martapura. Suatu pengorbanan tanpa air mata yang akan selalu dikenang. Terlepas dari hal itu, ternyata banyak tabir gelap dari sejarah tokoh fenomenal Demang Lehman yang belum diketahui khalayak. Pertanyaan yang mengemuka terutama, bagaimana Demang Lehman yang terkenal sakti mandraguna bisa ditangkap dengan begitu mudahnya oleh kolonial Belanda? Bagaimana proses penangkapannya? Serta sederet pertanyaan yang memang masih ada di ranah gelap menunggu secercah cahaya menguak tirai sejarah yang tertutup rapat.

Drama Penangkapan Demang Lehman

Dalam Berita Acara Vonis Demang Lehman yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda, 155 tahun yang lalu menjadi jawabannya. Berita Acara ini dibukukan dengan titel Verzameling Der Merkwaardigste Vonnissen Gewezen Door De Krijgsraden Te Velde In De Zuid En OosterAfdeeling Van Borneo, Gedurende de jaren 1859-1864. Arsip ini merupakan koleksi tentang vonis paling berkualifikasi yang diberikan oleh Dewan Perang, semacam Mahkamah Militer di wilayah Karesidenan Afdeeling Borneo bagian Selatan dan Timur, selama tahun 1859-1864. Buku ini diterbitkan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Landsdrukkerij, tahun 1865. Karena sumber Belanda, memang banyak yang meragukan sumber ini. Terutama masalah kesahihan dan banyaknya kepentingan pemerintah kolonial. Akan tetapi tentunya tidak salah apabila menjadi rujukan untuk mengetahui akhir kisah hidup sang syahidin, kebanggaan Urang Banjar. Toh sumber ini dibuat di tahun yang sama.

Demang Lehman yang bernama asli Idies, sewaktu ditangkap masih berusia muda, 30 tahun. Dalam sumber kolonial dituliskan Demang Lehman ditangkap di wilayah Gunung Batu Punggul (Batu Panggal) dekat Selelau, di Batu Licin. Kalau diidentifikasi sekarang kemungkinan lokasi ini ada di wilayah Batoepangkat, Desa Sela Selilau, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Upaya dan proses penangkapan Demang Lehman ini diungkapkan dalam Persidangan Pengadilan Demang Lehman, oleh para saksi. Mereka yang menjadi saksi adalah Brahim dan tahanan yang bernama Sambarani dan Singoprojo serta komplotannya.

Mereka mengungkapkan bahwa pada hari yang ditetapkan mereka mereka mendapat tugas khusus. Mereka telah menerima panggilan dari Kepala Wilayah Batu Licin (Syarif Hamid) agar melakukan segala upaya dengan tujuan untuk menangkap dan menyerahkan tersangka Demang Lehman yang berbahaya dalam kondisi hidup. Perintah penangkapan Demang Lehman ini sekitar awal Bulan Februari tahun 1862. Hampir sebulan sebelum junjungannya, Pangeran Hidayatullah ditipu oleh Belanda–dengan terlebih dahulu menyandera ibunya– dibawa dari Martapura dan diasingkan ke Cianjur pada tanggal pada 2 Maret 1862.

Demang Lehman pada awal Februari 1862, berdasarkan laporan mata mata kolonial Belanda berada di dekat Kampung Selelau (Desa Sela Selilau), agar sesegera mungkin ditangkap dan diserahkan kepada kepada pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu Brahim, Sambarani dan Singoprojo beserta komplotannya diperintahkan membujuk penduduk lain di Kampung Selelau yang umumnya warganya terdiri dari para pelarian narapidana. Tujuannya, agar bersama-sama mengejar tokoh pemberontak itu. Mereka menerima kabar bahwa Demang Lehman berada di sebuah perbukitan yang disebut Gunung Batu Punggul. Jaraknya sekitar satu hari perjalanan dari Selelau. Demang Lehman saat itu bersama istri dan empat orang pengikutnya.

Tidak mau kehilangan momentum, Pemerintah Hindia Belanda kemudian bekerja sama dengan penduduk di sekitar wilayah Selilau hingga Batulicin untuk menutup akses pengangkutan bahan makanan atau logistik ke wilayah Selilau. Tujuannya agar Demang Lehman dengan terpaksa akan meninggalkan tempat persembunyiannya karena kelaparan. Perkiraan ini tepat, ketika blokade itu berlangsung beberapa hari, Demang Lehman dan istri serta para pengikutnya turun gunung dan berangkat ke kampung Selelau, tempat dia menghuni sebuah rumah kosong.

Pada malam harinya –saksi Brahim menceritakan– bahwa komplotannya telah mencuri keris sakti dan tombak milik Demang Lehman, yang menurut kepercayaan orang, memiliki kesaktian. Senjata itu bernama Tombak Kalibelah dan Keris Sinkir. Diyakini sebagai sumber kesaktian Demang Lehman alias Idis. Demang Lehman, segera setelah pengetahui pencurian itu, bangkit amarahnya dan mengamuk dan mencari sang pencuri. Akan tetapi oleh Sambarani, seorang narapidana, berhasil dilerai dan menjanjikan kepada Demang Lehman, dengan segala cara mengupayakan kembalinya barang-barang yang hilang tersebut. Sambarani pun memberikan sebuah keris lain kepada Demang Lehman dengan maksud agar mau berdamai. Sementara itu di tempat lain, Sambarani sudah menyusun rencana. Dia lalu berbicara dengan para pengiring (komplotannya) untuk menyerang dan melumpuhkan para pemberontak (Demang Lehman dan sisa pasukannya), keesokan harinya. Setelah adanya tanda/kode yang diberikan olehnya.

Keesokan paginya ketika Demang Lehman melakukan Sholat Subuh dan semua pengikutnya telah pergi mencari perbekalan, dia ditangkap dan diikat. Demang Lehman memang sempat melakukan perlawanan, tetapi hanya berlangsung sebentar. Kemudian Demang dibawa ke Banjarmasin melalui kapal laut Pemerintah Hindia Belanda. Pada sumber versi lain yang berbeda, dituliskan bahwa Demang Lehman yang merasa kecewa dengan tipu muslihat Belanda berusaha mengatur kekuatan kembali di daerah Gunung Pangkal, negeri Batulicin, Tanah Bumbu. Waktu itu ia bersama Tumenggung Aria Pati bersembunyi di gua Gunung Pangkal dan hanya memakan daun-daunan. Oleh seorang yang bernama Pembarani diajak menginap di rumahnya.

Karena tergiur imbalan gulden dari Belanda, seseorang bernama Pembarani bekerjasama dengan Syarif Hamid dan anak buahnya yang sudah menyusuri Gunung Lintang dan Gunung Panjang untuk mencari Demang Lehman atas perintah Belanda. Demang Lehman tidak mengetahui bahwa Belanda sedang mengatur perangkap terhadapnya. Oleh orang yang menginginkan hadiah dan tanda jasa sehabis dia melakukan salat Subuh dan dalam keadaan tidak bersenjata, dia ditangkap. Ia sempat sendirian melawan puluhan orang yang mengepungnya. Atas keberhasilan penangkapan ini Syarif Hamid akan diangkat sebagai raja tetap di Batulicin.

Dalam vonis persidangan Demang Lehman juga dituliskan setelah sampai di Banjarmasin, Demang Lehman pun dihadapkan kepada sejumlah saksi untuk menegaskan identitasnya. Pemerintah Hindia Belanda saat itu khawatir, jangan jangan salah tangkap, atau jangan jangan bukan Demang Lehman. Pemerintah pun menghadirkan sejumlah saksi yang terdiri dari orang Belanda yakni Logemann, Verstege, Stoecker. Kemudian perwakilan pribumi yakni Pangeran Muhammad Aminullah, Pangeran Jaya Pamenang, Awang, Saima, Ali Ahmad dan Taesa. Dari kesaksian mereka dinyatakan bahwa orang yang dihadapkan kepada mereka tidak lain adalah Demang Lehman yang sangat ditakuti. Para saksi ini sangat mengenal Demang Lehman yang sering mereka temui dan kenal baik dalam berbagai kondisi.

Akhir Hayat di Tiang Gantungan

Sumber dalam Berita Acara Vonis Demang Lehman ternyata tidak cukup detail menjelaskan tentang drama penangkapan Demang Lehman alias Idis. Karena itulah dalam penelusuran, akhirnya didapatkan sumber lain yang bisa memberikan gambaran tentang penangkapan tokoh fenomenal ini. Satu diantaranya catatan dari H.G.J.L. Meyners, bertitel Bijdragen tot de Geschiedenis van het Bandjermasinsche Rijk (sumbangan untuk sejarah kesultanan banjar) 1863-1866, khususnya sub bab “Demang Lehman” terbitan E.J. Brill, Leiden, Belanda, memberikan banyak informasi seputar demang yang digelari pemerintah Hindia Belanda dengan nama Solehmah. Penulis catatan ini, Meyners sadalah seorang tentara berpangkat Letnan Kolonel Kelas 4 Ksatria Willem Orde pada ketentaraan Hindia Belanda.

Meyners menuliskan bahwa pada sore hari tanggal 21 Februari 1864, pejabat kepala kepala wilayah Batu Litjien (Batulicin), Pangeran Sjarif Hamid bersama dengan mertuanya, Poea Iman Hadjie Mohamat Akil membawa tahanan khusus dalam kondisi terikat dengan kuat. Dialah Demang Lehman yang begitu terkenal, apalagi Mangkubumi Kesultanan Banjar, Pangeran Hidayatullah memberinya gelar Kijai Adipattie Mangko Negara. Demang Lehman diangkut dengan prauw sopit (perahu supit). Karena perjalanan jauh dan kondisi sungai menuju ibukota, Banjarmasin yang diwarnai kondisi pasang surut sungai, sehingga kedatangan tahanan ini sangat terlambat dari perkiraan.

Setelah sampai di wilayah Schans Van Thuijll (sekarang bernama Mantuil, Banjarmasin), Demang Lehman lalu dipindahkan ke sekoci recherche (reserse) dan dari Schans Van Thuijll oleh Adjudant Onderofficier Posthouder, Serquet lalu dikawal menuju ke jembatan pendaratan (dermaga) di depan rumah tempat tinggal Residen (Jl. Jenderal Sudirman, Banjarmasin). Kepala Pemerintahan Sipil, Kolonel E.C.F Happe menerima keduanya (Pangeran Sjarif Hamid dan mertuanya Poea Iman Hadjie Mohamat Akil yang membawa Demang Lehman) di lapangan depan rumah kediaman residen. Hal ini memang di luar kebiasaan dan ketentuan, dimana Residen tidak bolah langsung mendatangi tokoh pemberontak yang ditangkap.

Akan tetapi dengan pertimbangan bahwa penangkapan Demang Lehman adalah sesuatu yang maha penting, Happe mengabaikan kebiasaan ini. Bagaimanapun juga sangat diperlukan adanya pemeriksaan segera. Setelahnya, Demang Lehman dipindahkan ke Benteng Tatas (wilayah Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin sekarang). Antusisasme Happe memang  beralasan. Proses penangkapan Demang Lehman oleh Kepala Wilayah Batu Litjien menguras banyak energi pemerintah Hindia Belanda. Selain biaya, bantuan persenjataan, Kepala Wilayah Batulicin harus melibatkan 23 narapidana (pelarian pekerja paksa dari Tambang Oranje Nassau Pengaron dan Tambang Batubara Kalangan). Semuanya harus bekerja keras menjelajahi daerah pegunungan di pantai timur borneo, yang hampir tidak dapat diakses oleh Pemerintah Hindia Belanda. Khususnya area Batu Litjien.

Masih pada malam yang sama dengan kedatangan Demang Lehman, Happe kemudian mengirimkan pesan yang sifatnya mendesak ke beberapa pejabat Belanda wilayah penting di Borneo. Bahwa dengan sesegera mungkin mengambil tindakan untuk memanfaatkan penangkapan Demang Lehman. Bahkan, malam itu juga Kapal Uap Penjelajah bernama “Sailoos” diperintahkan berlayar ke Martapura untuk menjemput beberapa tokoh yang bisa menjadi saksi pemeriksaan dan persidangan Demang Lehman. Dari sudut pandang penjajah kolonial, Demang Lehman didakwa telah bersumpah palsu, memerintahkan perintah untuk pembunuhan warga negara yang dilindungi pemerintah. Saksi utama yang dijemput tersebut adalah Pangeran Djaya Pamenang. Regent Afdeeling Martapoera (Bupati Martapura) pertama yang membawahi Distrik Martapoera, Distrik Margasarie, Distrik Riam Kanan dan Distrik Riam Kiwa. Kemudian Kiai Patih Djamidin, Kepala Distrik (Districhoofd) Martapura yang diangkat Pemerintah Hindia Belanda tahun 1861 yang lalu. Selanjutnya, beberapa orang yang bisa menjadi saksi lain proses pemeriksaan dan persidangan Demang Lehman.

Auditor-Militer Hindia Belanda segera memerintahkan proses hukum, setelah kedatangan saksi keesokan harinya. Tepatnya pada sore hari tanggal 22 februari 1864 pemeriksaan serta pengadilan di persidangan dimulai. Pemeriksaan dan pengadilan akhirnya selesai pada pagi hari tanggal 24 Februari, dimana Dewan Militer dengan suara bulat menyetujui Demang Lehman dihukum mati di Lapangan (Alun Alun) Martapura pada tanggal 27 februari 1864, sore hari. Setelah vonis ini, maka dibuat pemberitahuan kepada komandan pasukan, juga Asisten Residen di Martapura, dan perwira militer di dewan pengadilan untuk membawa Demang Lehman di bawah pengawalan ketat, tepat waktu. Pada pagi buta, Demang Lehman diangkut dengan Kapal “Saijloos” ke Martapoera (Martapura) dimana mereka tiba pagi hari, keesokan harinya tanggal 22 februari 1864.

Pasukan Pemerintah Hindia Belanda menyiapkan proses eksekusi maupun peralatan, karena putusan sudah diterima dan secepatnya harus dilakukan eksekusi. Kematian Demang Lehman pada tiang gantungan di Martapura nantinya, akan mengangkat citra Pemerintah Hindia Belanda, khususnya kebijakan dan tindakan tegas oleh Kolonel Happe. Dalam tulisannya, Meyners menuturkan bahwa semua orang, tidak mungkin untuk memahami Demang Lehman. Dalam kontak fisik pun sang demang ditakuti. Tanpa mengenal rasa takut. Bahkan dengan seribu orang pun ia lawan, asalkan ia memiliki Keris Singkir dan Tombak Kaliblah, senjata yang tidak pernah dia tinggalkan.

Untungnya, Doerahin seorang narapidana pelarian dari Tambang Batubara Kalangan, pada malam harinya sewaktu di Selilau berhasil mencuri keris dan tombak Demang Lehman, yang sedang tidur nyenyak. Demang Lehman sangat marah ketika dia bangun keris dan tombak kesayangannya hilang. Akhirnya sosok lain bernama Pambarani bisa menenangkannya dan memberi Demang Lehman kerisnya sendiri.

Bagaimana kondisi Demang Lehman menjelang detik detik kematiannya di tiang gantungan yang akan berlangsung lima hari lagi? Meyners menuliskan Demang Lehman, meski tampaknya kurang bergairah dan mengenakan pakaian buruk (compang camping), ternyata memiliki sesuatu yang mengesankan sikap dan ketegasannya.

Demang Lehman dengan bebas (luwes) berbicara ketika dia selesai pemeriksaan di persidangan, di hadapan dewan dan auditor militer serta kepala staf. Kemudian saat dibawa ke hadapan Kolonel Happe, Demang Lehman mengulangi permintaannya kepada kolonel. Seperti yang dinyatakannya dalam sesi terakhir persidangan Dewan Perang, Demang Lehman jangan dilarang untuk meninggalkan Borneo (Kalimantan) selamanya, meskipun dia harus mati, dihukum mati dengan cara digantung. Perilaku lain saat menjalani hari-hari terakhir pemenjaraannya, Demang Lehman sangat tenang dan pasrah. Sama tenangnya ketika dia mendengar vonis di Pengadilan Perang, tentang hukuman mati yang harus dijatuhkan padanya. Demang Lehman bahkan berterima kasih atas hukumannya karena merupakan rahmat. Bahwa hukuman mati yang akan dieksekusi padanya seperti yang dia minta, hanya dia lebih suka apabila hukuman itu (eksekusi hukuman mati) dia jalani di Bandjermasin (Banjarmasin).

Demang Lehman pun tidak memberontak atau melarang ketika perwakilan Pemerintah Hindia Belanda mengambil fotonya. Sebaliknya, dia tampaknya lebih senang dengan itu. Dalam dua hari setelah adanya pemberitahuan penghakiman bahwa akan dieksekusi hukuman gantung, Demang Lehman pun terkesan biasa saja. Sebelum Demang Lehman meninggal, dia hanya punya satu permintaan. Proses pengurusan jenazahnya dan pemakamannya diurus oleh istrinya. Demang Lehman tercatat memiliki putra bernama Gusti Djadin. Hal ini terungkap ketika terjadi insiden serangan Mayor Koch ke wilayah Pajukungan dan Alai. Pada serangan tersebut kaki Gusti Djadin terluka. Pada sumber lain tertulis bahwa Demang Lehman memiliki dua istri. Istri kedua bernama Ratuoe Atidja. Selain itu Demang Lehman juga memiliki mertua bernama Pembakkal Koenoer (Pambakal Kunur). Pada sisi lain menjelang eksekusinya, Demang Lehman juga berpuasa dengan ketat seperti yang ditentukan, karena pada saat itu bulan Puasa. Seperti ketentuan dalam Alquran, kemudian dia juga berbuka, pada saat buka puasa hanya hanya dengan roti biasa atau roti beras untuk jam-jam tertentu.

Kemana [Tengkorak] Demang Lehman?

Peti misteri tentang kematian Demang Lehman di tiang gantungan dan pemotongan kepalanya memang terkunci rapat. Walaupun perlahan mulai disibak dengan sederet riset ilmiah, ternyata hanya memberikan potongan potongan puzzle nan samar untuk disusun menjadi rangkaian kisah. Memang sulit karena minimnya sumber. Tetapi paling tidak, puzzle ini menjadi penguak tabir gelap dari sejarah sang syahidin asal Banua, Demang Lehman.Terdapat hal utama yang memberatkan Demang Lehman alias Idis sehingga dihukum mati oleh Pemerintah kolonial Belanda.

Solehmah, demikian biasa beliau digelari oleh Pemerintah Hindia Belanda, didakwa melakukan perlawanan bersenjata terhadap penguasa yang sah dengan tujuan menggulingkan kekuasaan. Padahal sebelumnya, panakawan Pangeran Hidayatullah ini dianggap telah mengambil sumpah setia kepada pemerintah. Setelah bersidang dua hari, Pemerintah Hindia Belanda pun akhirnya menjatuhi terdakwa hukuman mati dengan digantung. Dilaksanakan di Martapura, ibukota Afdeeling Martapoera (Martapura). Akhirnya pada sore hari, tanggal 27 Februari 1864 hukuman mati Demang Lehman dilaksanakan di Alun Alun Martapura oleh Oditur Militer Belanda, De Gelder. Padahal Demang Lehman, dalam permintaan terakhirnya sebenarnya meminta dieksekusi di Banjarmasin, akan tetapi karena pertimbangan ingin memberikan efek jera bagi perlawanan pribumi, dilaksanakan di Martapura, bekas Ibukota Kesultanan Banjar sebelum dihapuskan sepihak tahun 1860.

Banyak pertanyaan yang muncul di khalayak seputar hukuman mati Demang Lehman. Pertanyaan paling mendasar adalah benarkah Demang Lehman alias Idis, dihukum mati? berdasarkan data-data sejarah yang ada, memang benar adanya Demang Lehman dihukum  6 mati. Van Rees dalam De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, menuliskan bahwa setelah Demang Lehman diangkut ke Bandjermasin, lalu dijatuhi hukuman mati oleh Dewan Perang dengan jerat (hukuman gantung). Eksekusi hukuman mati dilaksanakan di depan ribuan penduduk asli (pribumi).

Dalam catatan H.G.J.L. Meyners, bertitel Bijdragen tot de Geschiedenis van het Bandjermasinsche Rijk 1863-1866, dituliskan Demang Lehman dengan tenang naik ke kapal Saijloos yang membawanya pagi buta ke Martapura untuk dieksekusi tanggal 27 Februari. Demang Lehman saat dieksekusi sedang menjalani puasa. Menurut Meyners, Demang lehman atau Solehmah ditahan beberapa hari, menjalani ibadah puasa. Pada saat buka puasa hanya dengan roti biasa atau roti beras untuk jam-jam tertentu. Demang Lehman dieksekusi pada waktu sore hari, diperkirakan setelah Ashar dimana waktu waktu menjelang berbuka puasa.

Pada waktu Demang Lehman menjalani tahanan, tidak ada seorang pun yang menjenguknya atau sekedar mempertanyakannya. Sebab penduduk sangat takut disangkut pautkan dengan Demang Lehman. Demikian dituliskan wartawan Surat Kabar Sumatra Nieuws en Advertebtie Blad edisi 7 Mei 1864. Demang Lehman sangat tenang dan tidak kehilangan kendali dirinya dia melangkah ke darat (dari kapal di sungai) dan dengan bangga mengangkat kepalanya melewati tatapan kumpulan warga Martapura yang ada di jalan menuju tempat eksekusi (tiang gantungan). Pada versi lain dituliskan bahwa pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup. Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa.

Hal ini senada dengan pernyatan Meyners yang menuliskan bahwa Demang Lehman menderita hukuman mati dengan ketenangan dan sikap mengagumkan. Setelah meninggal, jenazahnya tanpa dikebumikan (dishalatkan) kemudian dimakamkan setelah dibawa dari Rumah Sakit di Martapura. Dalam Surat Kabar Sumatra Nieuws en Advertebtie Blad edisi 7 Mei 1864, menuliskan tidak ada satu pun dari penduduk Martapura yang mengklaim bahwa Demang Lehman keluarganya. Kemungkinan hal ini disebabkan karena rasa ketakutan masyarakat saat itu. Demikian juga ditulis Meyners, setelah eksekusi, tiada ada satu keluarganya pun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya.

Menjadi tanda tanya besar adalah pernyataan tentang wasiat Demang Lehman yang diberitakan diucapkannya sebelum mati di tiang gantungan, “Dangar-dangar barataan! Banua Banjar lamun kahada lakas dipalas lawan banyu mata darah, marikit dipingkuti Walanda!” Menurut Anggraini Antemas dalam Orang-Orang Terkemuka Dalam Sejarah Kalimantan (2004), diucapkan Demang Lehman menjelang eksekusi di tiang gantungan di tanah lapang Martapura 27 Februari 1864. Sayangnya, belum didapatkan sumber yang mendukung pernyataan ini. Demikian juga dalam buku ini tidak menuliskan rujukan sehingga masih dipertanyakan apakah pernyataan ini ada atau tidak.

Apakah Demang Lehman dipancung (dipotong kepala) setelah eksekusi? Pada satu sumber dituliskan bahwa setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dipotong oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala. Sayang sumber ini meragukan, walaupun menuliskan rujukan dari Berita Acara Vonis Demang Lehman setelah ditelusuri penulis, agak meragukan karena tidak ada pernyataan tentang masalah pemancungan ini. Kasus ini memang menjadi misteri karena dalam penelusuran penulis, baik dari catatan Berita Acara Vonis Demang Lehman maupun tulisan tulisan Meyners, tidak ada pernyataan apa pun tentang masalah pemotongan kepala ini.

Pada sisi lain memang terdapat sumber yang menuliskan bahwa segala siasat dan cara telah dilakukan Belanda memikat Pangeran Hidayat dan Demang Lehman agar menghentikan perlawanannya terhadap pemerintah Belanda, tetapi semua itu tidak berhasil. Cara lain yang dilakukan berusaha menangkap kedua tokoh pejuang itu hidup atau mati. Dengan mengeluarkan pengumuman kepada seluruh rakyat agar dapat membantu Belanda menangkap kedua tokoh dengan imbalan menggiurkan.

Imbalan yang dijanjikan adalah lewat pengumuman harga kepala terhadap tokoh pejuang yang melawan Belanda. Harga kepala Pangeran Hidayat adalah sebesar f 10.000,- dan Demang Lehman sebesar f 2.000,- Nilai uang sebesar itu sangat tinggi dan dapat memikat hati setiap orang yang menginginkan kekayaan. Dari pernyataan ini bisa diduga bahwa kemungkinan pemotongan kepala dilakukan, untuk tujuan hadiah sebesar f 2.000. Kalau memang misalnya untuk hadiah, toh Syarif Hamid yang berhasil menangkap Demang Lehman sudah mendapat hadiah sebagai penguasa Batulicin. Lalu untuk apa memotong kepala? Hal inilah yang akhirnya menjadi misteri untuk pendalaman penelitian dan riset sejarah lebih lanjut oleh para ahli sejarah. Hal yang pasti pemerintah kolonial Belanda menutupi hal ini.

Dimana Demang Lehman dimakamkan? Kalau ditelaah kembali wasiat Demang Lehman sebelum dihukum gantung, kemungkinan besar Demang Lehman dimakamkan di wilayah Martapura dan sekitarnya. Dalam wasiatnya, Demang Lehman mengatakan bahwa Demang Lehman jangan dilarang untuk meninggalkan Borneo (Kalimantan) selamanya, meskipun dia harus mati, dihukum mati dengan cara digantung.

Hanya saja dalam penelusuran beberapa arsip kolonial, belum didapatkan data dimana sang syahidin dimakamkan. Karena sesuai data di awal, tiada ada satu keluarganya pun yang menyaksikannya dan tidak ada keluarga yang menyambut mayatnya. Meyners hanya menuliskan setelah meninggal, jenazahnya tanpa dikebumikan (dishalatkan) kemudian dimakamkan setelah dibawa dari Rumah Sakit di Martapura. Selanjutnya, jika memang setelah hukuman gantung, kepala Demang Lehman dipandung, pada museum mana tengkorak Demang Lehman disimpan? penelusuran sementara banyak versi. Mulai dari Museum Leiden, hingga ke Museum Anatomi Belanda. Walaupun demikian belum bisa dipastikan. Menurut Pangeran Chepy Isnendar-keturunan keempat Pangeran Hidayatullah, berdasarkan keterangan Donald Tick, pemerhati sejarah dan budaya nusantara yang bermukim di wilayah Vlaardingen Belanda, memang telah lama menelusuri dimana tengkorak Demang Lehman.

Akhirnya didapatkan di Museum Anatomi Belanda, melalui katalog online di museum ini. Sayang Donald Tick, tidak sempat melihat tengkorak Demang Lehman yang ada di museum ini. Pada sumber lain dituliskan bahwa Kepala Demang Lehman beberapa tahun kemudian, disimpan di Museum Volkenkunde atau Museum Etnologi Nasional di Leiden, menjadi salah satu diantara koleksi-koleksi yang paling awal. Pada versi lain hanya dituliskan, setelah memenuhi janjinya, mati di garis perjuangan dengan cara digantung, kepalanya lalu dipenggal oleh Belanda, jenazahnya dikubur tanpa kepala. Kepalanya dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden untuk disimpan di Museum Leiden, Belanda .

Kemudian terdapat informasi lain yakni sekitar sepuluh tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2009 pertama kali disampaikan mantan Wakil Gubernur, H. Rosehan NB. Dari keterangan persnya yang dilakukan di Aula Abdi Persada Pemprov Kalimantan Selatan, Wakil Gubernur di era periode pertama pemerintahan Gubernur Rudy Ariffin tersebut menyatakan menerima kabar dari salah seorang arkeolog asal Yogyakarta, yang mengatakan bahwa kepala Demang Lehman masih tersimpan di salah satu museum di Belanda. Cuma yang menjadi tanda tanya, siapakah arkeolog yang memberikan kabar ini dan sampai dimana validitasnya, benarkah itu kepala Demang Lehman serta sederet pertanyaan lainnya.

Hanya dua informasi awal ini yang menjadi data sementara tentang dimana dugaan lokasi keberadaan kepala Demang Lehman di Belanda. Pertanyaan yang mengemuka sehebungan dengan ini adalah, dimana lokasi tepat kepala Demang Lehman disimpan? berdasarkan imformasi dari Pangeran Chevy, sampai saat ini mengenai lokasi memang belum ada kejelasan karena informasi ini terlalu sensitif, sehingga belum saatnya dipublikasikan. Apabila ditelusuri kembali keterangan Donald Tick, mengatakan bahwa kepala Demang Lehman disimpan di satu lokasi dengan tengkorak kepala raja Badu Bonsu II dari Ghana, Afrika. Sebagai informasi pada tahun 1837, Badu Bonsu II memberontak terhadap pemerintah Belanda, dan membunuh beberapa perwira, termasuk penjabat Gubernur Hendrik Tonneboeijer. Pada keterangan lain dituliskan Badu Bonsu II, pemimpin kelompok Ahanta, diyakini telah dipenggal sebagai pembalasan atas pembunuhan utusan Belanda. Kini tengkorak kepala Badu Bonsu, dikembalikan ke tanah kelahirannya untuk dimakamkan, kata pihak berwenang di Belanda.

Penulis Belanda Arthur Japin, menemukan kepala Badu Bonsu pada tahun 2005, disimpan dalam formaldehyde di Leiden University Medical Center (LUMC). Artinya kemungkinan besar, kelala Demang Lehman disimpan di Leiden University Medical Center (LUMC). Untuk kepastiannya, tentunya harus menunggu bagaimana rilis dari pemerintah Belanda.

Penutup

Banyak hal lain yang menjadi misteri yang mungkin belum bisa terjawab dalam tulisan ini. Perlu pendalaman sumber, perbandingan dan penelitian intens dengan metode sejarah (historichal method). Memang banyak versi lain yang berasal dari sumber lisan dalam masyarakat seputar detik detik kematian Demang Lehman maupun setelah kematiannya yang bersifat mistis. Akan tetapi terlepas dari hal itu, semoga tulisan ini bisa menggugah semangat kebangsaan dan kejuangan. Bahwa betapa mahalnya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan banua ini. Banyak pengorbanan yang dilakukan meraih indahnya kebebasan dalam bingkai kemerdekaan hakiki.

Referensi

  • Arsip “Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo gedurende de jaren 1859-1864”, Bijdrage Tot De Geschiedenis van den Opstand in het Rijk van Bandjermasin (Batavia : Ter Landsdrukkerij, 1865).
  • H.G.J.L. Meyners, Bijdragen tot de Geschiedenis van het Bandjermasinsche Rijk 1863-1866, (Leiden, E.J. Brill, 1886).
  • Van Rees, W.A. De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863 (Arnhem: Thieme, 1865).
  • Surat Kabar Sumatra Nieuws en Advertebtie Blad edisi 7 Mei 1864,
  • Anggraini Antemas, Orang-Orang Terkemuka Dalam Sejarah Kalimantan (Banjarmasin: Ananda Nusantara , 2004).
  • Podcast Het Verloren Hoofd (The Lost Head), podcast tujuh bagian dari Nieuw Geluid, KRONCRV dan NPO Radio 1 yang disiarkan setiap dua minggu mulai 17 November, mulai tanggal 07 November 2019 sampai 02 Februari 2020.
  • Louie Buana, Netherlands returns 1,500 artifacts to Indonesia, Arab News Website, January 11 th , 2020. Link: https://www.arabnews.com/node/1611241/world.
  • Martin Enserink, Kings Head Be Returned Ghana, https://www.sciencemag.org/news/2009 /03/kings-head-be-returned-ghana edisi 20 maret 2009 9

Lampiran

Podcast Het verloren hoofd (The Lost Head)

Het verloren hoofd (The Lost Head) adalah podcast tujuh bagian dari Nieuw Geluid, KRONCRV dan NPO Radio 1. Podcast tersebut diwujudkan dengan dukungan dana NPO. Serial ini akan dirilis setiap dua minggu mulai 17 November, mulai tanggal 07-11-2019 sampai 02-02- 2020. Adapun trailer Het verloren hoofd diawali Sejarawan amatir Donald Tick telah mencari kepala pejuang kemerdekaan Indonesia selama bertahun-tahun. Dia mengirim jurnalis Mathijs de Groot dan Nienke Zoetbrood dalam misi yang mustahil melalui masa kolonial dan birokrasi kontemporer. Adapun Garis besar isi podcast (versi terjemahan) sebagai berikut :

  1. Pesan ini sangat penting bagi saya. Nienke Zoetbrood dan Mathijs de Groot menerima pesan aneh. Sosok yang mencolok sedang mencari kepala mertuanya di Banjarmasin – Kalimantan. Untuk menemukannya, dia mengatakan dia membutuhkan bantuan Nienke dan Mathijs. Keduanya segera terjerat dalam dunia bagian tubuh, putri, dan aturan permainan yang dipertanyakan.
  2. 10.000 bagian tubuh. Tengkorak Demang Lehman seharusnya ada di suatu tempat di Belanda. Tapi di mana Anda mulai mencari? Nienke dan Mathijs memulai dengan satusatunya petunjuk yang mereka miliki: berbekal Google Terjemahan, mereka mulai mencari artikel di situs berita Indonesia.
  3. Saya melihat Anda. Nienke dan Mathijs terjebak dalam pencarian mereka. Untuk lebih dekat dengan kepala pejuang kemerdekaan Demang Lehman dan Museum Anatomi Leiden, mereka bertemu dengan penulis Arthur Japin, yang pernah menemukan kepalanya lagi. Jurnalis Nienke Zoetbrood dan Mathijs de Groot terjebak dalam pencarian mereka. Untuk lebih dekat dengan kepala pejuang kemerdekaan Demang Lehman dan Museum Anatomi Leiden, mereka bertemu dengan penulis Arthur Japin.Japin bertatap muka dengan kepala (tengkorak) di Museum Anatomi Leiden. Saat meneliti novelnya ‘The Black with the White Heart’, penulis menemukan kisah Badu Bonsu II. Seorang raja dari daerah yang sekarang menjadi Ghana. Pada tahun 1838 Badu Bonsu dipenggal kepalanya atas pembunuhan dua utusan Belanda. Raja telah menundukkan kepala mereka di singgasananya. Setelah dipenggal, tengkorak Badu Bonsu dibawa ke Belanda. Ke Museum Anatomi Leiden.
  4. Orang kami di Kalimantan. Pencarian kepala pejuang kemerdekaan Demang Lehman menuju ke arah yang benar. Nienke dan Mathijs telah menemukan keturunan Lehman, setidaknya dia telah menemukan mereka. Dan tengkorak itu tampaknya ada di database Museum Anatomi Leiden. Apa yang masih salah?
  5. Cicit dari buyut. Ketika Nienke dan Mathijs berbicara dengan Donald Tick untuk pertama kalinya tentang tengkorak Demang Lehman, mereka berpikir: kita akan mencari tahu sebentar. Kemudian jelas apakah ceritanya benar dan apakah tengkorak itu ada di Leiden. Tapi minggu berubah menjadi bulan, satu percakapan dengan Donald berubah menjadi wawancara yang tak terhitung jumlahnya. Dan masih belum ada jawaban pasti untuk satu pertanyaan itu: apakah benar tengkorak itu ada di Belanda? Namun Nienke dan Mathijs sudah berpikir lebih jauh: jika tengkorak itu ada di Belanda, apakah orang-orang di Indonesia benar-benar menginginkannya kembali? Pencarian sulit untuk keturunan Demang Lehman yang masih hidup dimulai.
  6. Permisi dulu. Apa yang awalnya terdengar seperti dongeng gila menjadi kisah nyata. Dan apa yang disebut sains menjadi cerita yang tidak bisa dipahami. Dan akibatnya, pencarian ini sepertinya semakin banyak tentang kebenaran di balik Museum Anatomi Leiden, dan semakin sedikit tentang hal utama yang memulai semuanya: Demang Lehman. Kami secara bertahap bertanya-tanya tentang alasan museum tidak menjawab kami.

 

Homecoming: The Return of Indonesian Historical Artifacts from The Netherlands

(Mudik : Kembalinya Artefak Sejarah Indonesia dari Belanda)

Ditulis Louie Buana, Alumni Universiteit Leiden, published as edited news article entitled “Netherlands returns 1,500 artifacts to Indonesia”, Arab News Website, January 11 th , 2020. Link: https://www.arabnews.com/node/1611241/world

Pada November 2019, podcast Belanda berjudul Het Verloren Hoofd (“The Lost Head”) yang diproduksi oleh KRO-NCRV dan NPO Radio 1 melaporkan penemuan mengejutkan tengkorak di koleksi Museum Anatomisch Leiden, Belanda. Tengkorak berusia 150 tahun itu milik seorang pahlawan lokal abad ke-19 melawan otoritas kolonial Belanda di Kalimantan Selatan, Indonesia. Namanya Demang Lehman, seorang pemimpin militer Kesultanan Banjarmasin. Pada 27 Februari 1864, setelah serangkaian perlawanan yang melibatkan pengkhianatan dari rakyatnya sendiri, Demang Lehman yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya digantung oleh tentara Belanda. Kepalanya dibawa ke Belanda, sedangkan sisa tubuhnya masih belum diketahui.

Sebenarnya upaya pemulangan tengkorak itu sudah dimulai sejak 2009 oleh Pemprov Banjarmasin. Namun, jawaban yang diberikan Leiden kurang memuaskan. Bagi masyarakat Banjarmasin, kembalinya tengkorak Demang Lehman bisa menjadi penghormatan tertinggi bagi martabat mereka. Tengkorak tersebut melambangkan perjuangan melawan kekuasaan kolonial. Bahkan lebih dari itu, bangsawan keturunan Banjarmasin ini juga ingin menghormati syuhada dengan mengadakan upacara pemakaman secara Islami bagi Demang Lehman. Membiarkan bagian tubuh yang tersisa dikubur dengan tidak benar dianggap memalukan. Di saat pemerintah merayakan kepulangan 1.500 artefak sejarah dari Belanda, masyarakat Banjarmasin masih harus menunggu pahlawan mereka dikembalikan ke rumah aslinya.

 

Kings Head Be Returned Ghana

(Kepala Raja akan Dikembalikan ke Ghana)

Oleh Martin Enserink dalam website https://www.sciencemag.org/news/2009/03/kings-headbe-returned-ghana edisi 20 maret 2009 jam 15.22.

Kepala raja Ghana, yang diawetkan dalam formaldehida dalam koleksi akademis di Belanda, akan dikembalikan ke Ghana untuk dimakamkan, menteri sains Belanda Ronald Plasterk mengumumkan setelah rapat kabinet hari ini. Kepala Raja Badu Bonsu II, yang dibunuh oleh Belanda sekitar 170 tahun lalu, ditemukan oleh novelis Arthur Japin di koleksi Pusat Medis Universitas Leiden tahun lalu. Pejabat Ghana telah meminta pengembaliannya. The Associated Press melaporkan bahwa kepala raja Ghana, yang diawetkan dalam formaldehida dalam koleksi akademis di Belanda, akan dikembalikan ke Ghana untuk  11 dimakamkan, menteri sains Belanda Ronald Plasterk mengumumkan setelah rapat kabinet hari ini. Kepala Raja Badu Bonsu II, yang dibunuh oleh Belanda sekitar 170 tahun lalu, ditemukan oleh novelis Arthur Japin di koleksi Pusat Medis Universitas Leiden tahun lalu. Pejabat Ghana telah meminta pengembaliannya.

The Associated Press juga melaporkan Belanda mendirikan pos perdagangan dan budak di Ghana pada akhir 1500-an, dan tetap terlibat di negara itu – yang kemudian dikenal di Eropa sebagai Gold Coast – hingga akhir abad ke-19. Menurut Japin, kepalanya diambil oleh Mayor. Gen. Jan Verveer sebagai pembalasan atas pembunuhan dua utusan Belanda oleh Bonsu, yang kepalanya kemudian dipajang sebagai piala. Tidak jelas persis kapan Bonsu dibunuh. Verveer merekrut tentara dan budak di Ashanti untuk bertugas di Hindia Timur pada akhir tahun 1830-an. Kepala tersebut rupanya dibawa ke Leiden sekitar waktu itu atas permintaan seorang peneliti yang mempelajari bentuk tengkorak. Plasterk mengatakan keputusan untuk memulangkan kepala tersebut tidak sulit karena kepala tersebut tidak lagi melayani tujuan ilmiah atau budaya.

Tags:

You May also Like

0 thoughts on “MELACAK JEJAK [TENGKORAK] DEMANG LEHMAN

Leave a Reply