SHOPPING CART

close

TEKEN PAREI DAN MITOS KEPERKASAAN PRIA


Nama ilmiah dari tumbuhan paku ini adalah Heminthostachys Zeylanica (Linn) Hook. Karena bentuknya seperti jari telunjuk yang mengarah ke langit maka dinamakan “Tunjuk Langit”. Orang Dayak Ngaju di daerah Katingan menyebutnya “Suket Kekei”, sedangkan yang tinggal di sungai Kapuas dan Kahayan menyebutnya “Teken Parei.” Catatan penting, tanaman ini berbeda dari “Buah Tunjuk Langit” yang disebut dengan nama Latin Swietenia macrophylla.

Disebut “Teken Parei” karena umumnya tumbuh di antara “parei” atau padi. Seorang perempuan tua yang dikenal sebagai “tukang nantamba” (penyembuh), menceritakan, konon ketika benih padi di masukkan ke dalam lubang tanah yang ditugal, itulah saatnya benih padi berlayar, merantau atau bepergian jauh dengan menyusuri sungai, danau dan lautan untuk menumbuh-kembangkan, memperbanyak dirinya. Untuk bepergian melewati sungai-sungai ia memerlukan “teken” yaitu galah kayu untuk mendorongnya bergerak maju. Karena itu orang Dayak Ngaju sangat senang kalau ada tumbuhan Teken Parei di ladang padinya karena itu pertanda bahwa tanah di tempat itu subur cocok untuk menanam padi. Asumsi saya, kemungkinan lain adalah “Teken Parei” menjadi semacam pupuk hayati atau pupuk mikrobiologis (bio-fertilizers) yang membuat tanaman padi menjadi subur.

Orang Dayak Ngaju menggunakan “Teken Parei” sebagai bumbu penyedap rasa. “Inilah vetsin kami,” kata seorang ibu yang berasal dari desa Dahian Tunggal, Katingan, “Kami memasukkan helai-helai daunnya dalam sayur masakan kami, agar terasa gurih dan segar”. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan ini adalah bagian batang dan daun muda yang diolah dengan cara ditumis atau disayur.

Kandungan nutrisi dari tumbuhan pangan lokal yang bernama “Teken Parei” ini, menurut Hastin et.al (2013) adalah :

  • Phosporus 97.50 mg/1000 g-1
  • Calcium 1058.02 mg/1000 g-1
  • Iron 136.72 mg/1000 g-1
  • Sodium 678.33
  • Potassium 3980.92
  • Vitamin C 27.19 mg/100 g.

Dari data itu tampak hal yang mengagumkan ternyata “Teken Parei” mengandung vitamin C yang tinggi yaitu 27.19 mg/100 g. Lebih tinggi dari kandungan vitamin C pada buah Tomat yang menurut penelitian Tea et. al (1988) hanya 17.8-19 mg/100 g. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah itu, baru aku mengerti kenapa penyakit sariawan tak mampu menghinggapi bibir dan mulut para ibu-ibu penggemar sayur tradisional ini.

Masih berkaitan dengan khasiat, seorang bapak berumur sekitar 60 tahun, menjelaskan kepada saya kenapa tanaman liar namun nikmat untuk sayur itu diberi nama “Teken Parei”. “Teken adalah kayu dipakai mendorong maju rakit atau perahu” kata bapak itu menjelaskan. “Karena itu teken itu harus terbuat dari kayu yang keras dan kuat nak. Tidak boleh kayu lapuk apalagi yang ‘dule-dulei’ (lemah atau loyo)”. Itu penjelasan yang umum dan biasa bagi saya, karena hampir semua orang Dayak mengetahui hal itu. Penjelasan selanjutnya membuat saya melongo dan ternga-nganga, “Setiap kita orang laki-laki punya ‘teken’ nak. Teken kita harus keras, kuat dan tidak boleh loyo”.

Gubraaakkkkkk…….otakku seolah diterjang truk tronton muatan penuh. Apalagi mengingat sang bapak ini walaupun sudah tua namun bertubuh segar dan atletis ini mempunyai 8 orang anak. Enam orang anak dari istrinya yang terdahulu namun sudah wafat, sedangkan yang dua orang anak dari istri kedua yang berumur separuh dari umurnya.

Dengan setengah berbisik ia menjelaskan, “Cabut pada saat matahari naik, agar jangan sampai bayanganmu menimpanya. Sebagai pengganti letakkan garam, paku dan uang logam pada pokok batangnya. Cabut pada musim penghujan, jangan pada musim kemarau karena sudah tak ada khasiatnya. Ambil akar dan batangnya. Keringkan dengan diangin-anginkan, jangan langsung di bawah terik matahari. Kemudian rebus dengan api yang kecil, biarkan mendidih perlahan-lahan. Dinginkan airnya,lalu diminum rutin 3 kali sehari sekitar 1-2 gelas ukuran sedang. Dengan nada yang sangat sopan ia menjelaskan, “Itu mampu membuat ‘teken’ kita kuat dan keras nak, sehingga mendorong para ibu-ibu untuk hamil dan mempunyai anak”.

Ketika aku melakukan studi pustaka, apa yang dikatakan sang bapak itu benar adanya. Ada beberapa penelitian memperlihatkan bahwa tumbuhan ini memang berkhasiat demikian, misalnya Suku Kolli yang berdiam di wilayah pegunungan India memakainya sebagai obat untuk meningkatkan vitalitas dan mengatasi impotensi. G Perumal (2010) menyatakan “Helminthostachys zeylanica (Linn.) Hook. is used for vitality and brain tonic”. Hal yang sama juga diungkapkan dalam penelitian Ambasta, 1986; Jain, 1991; Asolkar et.al, 1992. Di China tumbuhan ini dikategorikansebagai tumbuhan penyembuhan atau obat herbal dan dikenal dengan nama Dao Ding Wu Gong, dan telah dipasarkan dalam bentuk kapsul dengan kemasan menarik.

Akh…..rupanya aku sedang belajar ethno-medicine dari bapak ini, pelajaran yang DAHSYAT karena mengingatkan aku dengan sejumlah kata khas kaum laki-laki: perkasa, jantan, lemah syahwat, impotensi, viagra dan mak erot. Apalagi ketika ia berbisik, “Khasiatnya lima kali lipat akar Pasak Bumi”.

Terimakasih pak, yang pasti kalau makanan kita sehat dan alami maka tubuh kita juga sehat, termasuk “Si Teken”.  Sayang suami…..sayang suami…..ayo para ibu-ibu kembali ke sayur tradisional, alami tanpa pupuk dan zat kimia. [*MM*].

Tags:

You May also Like

No result data

0 thoughts on “TEKEN PAREI DAN MITOS KEPERKASAAN PRIA

Leave a Reply

Your email address will not be published.