SHOPPING CART

close

KAHARINGAN: BUKAN KAYU LAPUK

Religiogenesis

Kaharingan adalah  nama agama  orang Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, Indonesia.  Menurut mereka,  Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu. Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan, sejak Ranying Hatalla Langit menciptakan alam semesta.  Ia telah ada sejak  dua manusia laki-laki dan perempuan pertama diciptakan, yaitu Manyamei dan Kameloh.  Kaharingan telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen.   Datangnya agama-agama itu, menyebabkan Kaharingan dipandang, dilihat dan disebut  sebagai Agama Helo (agama lama),  Agama Huran (agama kuno), atau Agama Tato-Hiang (agama nenek-moyang).

Orang Dayak Ngaju memang  tidak mempunyai nama khusus yang given untuk  menyebutkan  sistem kepercayaan mereka.  Ketika bertemu dengan  orang-orang non-Dayak,  mereka menyebut agama mereka sebagai Agama Dayak (Garang, 1974:18), atau Agama Tempon Telon[1] (Ugang, 1983:10).  Untuk menunjuk bahwa agama mereka telah ada sejak dahulu kala, terkadang mereka juga menyebutnya sebagai agama dahulu atau agama lama (agama huran, agama helo).  Hans Schärer dalam disertasi doktoralnya menggunakan istilah Agama Ngaju (Ngaju Religion) untuk menyebutkan   sistem  kepercayaan dan praktek keagamaan  asli orang  Dayak Ngaju ini (buku asli 1946, 1963:12).

Terminologi “Kaharingan” dalam artian sebagai nama agama, pertamakali muncul pada 17 April 1944, dalam tulisan Tjilik Riwut yang berjudul Kaharingan (Riwut, 1944).   Kemudian pada 1945, saat Jepang berkuasa, dalam tulisannya Beberapa Keterangan Tentang Bangsa Dajak,  ia dengan jelas memakai  istilah “Agama Dajak Kaharingan” (Riwut, 1945).  Sekitar pertengahan tahun 1945, pemerintah militer Jepang di Banjarmasin ingin mengetahui kejelasan nama dari agama yang dianut oleh orang Dayak. Karena sepengetahuan mereka orang-orang Dayak tidak hanya beragama Islam atau Kristen tetapi juga menganut “agama tersendiri” yang oleh orang-orang pada waktu itu disebut sebagai “Agama Heiden”,  “Agama Kafir” dan “Agama Helu”. Untuk itu, maka dipanggil menghadap dua orang Dayak Ngaju yang bernama Yohanes Salilah dan W.A. Samat.  Salilah dengan spontan menjelaskan bahwa  nama agama orang Dayak  adalah “Kaharingan” yang artinya  “kehidupan yang abadi dari Ranying Mahatala Langit” (Salilah, 1976:1).   Sejak saat itu, istilah Kaharingan diadopsi oleh pemerintah militer Jepang di Banjarmasin sebagai nama tersendiri untuk menyebut nama agama yang dianut oleh orang Dayak.  Sejak itu pula, semua orang Dayak yang tidak beragama Islam atau Kristen disebut beragama Kaharingan.

Nama Kaharingan yang diintrodusir oleh Riwut dan Salilah adalah nama yang tepat untuk menyebut nama agama otokhton  orang Dayak Ngaju ini, karena Kaharingan atau Danum Kaharingan (Air Kehidupan) adalah satu elemen maha penting dalam agama Dayak Ngaju. Bagi orang Dayak Kaharingan, Danum Kaharingan merupakan  substansi yang maha berharga di alam semesta ini karena berdaya untuk mendatangkan kehidupan abadi dan dipergunakan oleh  Ranying Mahatalla Langit untuk menghidupkan kembali jiwa orang telah meninggal dunia agar dapat hidup kekal di surga.

Dalam basa sangiang yaitu bahasa ritual para imam ketika menuturkan mitos-mitos suci, kata Kaharingan berarti “hidup atau kehidupan”  (Baier, Hardeland dan Schärer, 1987: 48).  Dalam bahasa Dayak  Ngaju  sehari-hari kata Kaharingan berarti  “hidup” atau “ada dengan sendirinya” (Weinstock, 1981:34,1983:18).

Ketika melakukan penelitian tentang konsepsi manusia dalam Kaharingan, saya menemukan bahwa ada empat unsur  yang menjadi komponen pembentuk seorang manusia, salah satunya adalah Haring Kaharingan yaitu roh yang berasal dari Ranying  Hatalla yang masuk pada saat janin berusia tiga bulan sepuluh hari sehingga membuat bayi itu bisa bergerak atau hidup.  Dalam konteks ini kata Haring Kaharingan  dilihat sebagai roh yang berasal dari Ranying Hatalla yang membuat manusia  bisa mempunyai gerak atau hidup. Basir Uwak Lenjun  (wawancara pribadi, Agustus 2009) dengan tegas mengatakan karena itulah orang Dayak Ngaju  menyebut dirinya beragama Kaharingan yaitu karena ada Roh Ranying Hatalla atau Roh Haring Kaharingan yang masuk ke dalam tubuhnya pada saat ia masih janin di dalam perut ibu.

Pada masa kini,  dalam buku pelajaran agama Hindu Kaharingan kata Kaharingan dijelaskan sebagai “sumber kehidupan dengan kuasa Ranying Hatalla Langit” (LPTUKUAHK 2003: 1).   Lewis KDR, penganut dan petinggi agama Kaharingan, menjelaskan bahwa kata  Kaharingan sudah ada sejak dahulu kala dan selalu muncul dalam setiap upacara keagamaan. Menurutnya kata Kaharingan adalah “nama dari kekuasaan Tuhan,”  yang artinya “kehidupan”, “sumber kehidupan,” atau “kekuatan hidup” (Lewis, KDR,  wawancara pribadi tahun 2008).

Dengan demikian tampaklah bahwa kata “Kaharingan” berasal, sesuai dan bersumber dari ajaran Kaharingan sendiri.  Karena itu maka pada tanggal 20 Juli 1950, dalam satu kongres para penganut agama Kaharingan di desa Tangkahen,  nama  Kaharingan  disahkan menjadi nama resmi bagi agama orang Dayak di  Kalimantan (Schiller, 1997: 412).

Pada zaman Jepang, Kaharingan tampaknya mendapat penghargaan dan kedudukan yang terhormat.  Penguasa militer Jepang menyatakan bahwa Agama Kaharingan ada kaitan dan kemiripan dengan Agama Shinto (Mihing dan Rampai, 1978: 111).   Karena itu, misionaris Bigler (1947) melaporkan bahwa    pada zaman Jepang  untuk kali pertama agama suku ini diangkat dan diterima sebagai agama yang terpandang bahkan dijadikan partner serius pemerintah dalam menangani  kebudayaan (bdk. Baier 2007a, 2007b).

Untuk mengetahui lebih banyak tentang  Kaharingan serta kebudayaan Dayak, pemerintah Jepang menyediakan semacam Pusat Penelitian yang disebut dengan Bagian Penyelidik Adat dan Kebudayaan Kalimantan (Laksono dkk.,  2006: 110-111). Salah satu kegiatan  Pusat Penelitian yang berkedudukan di Banjarmasin dan di bawah pimpinan Prof. K. Uyehara adalah  melakukan ekspedisi ke daerah pedalaman untuk mengadakan survei dan pendokumentasian adat dan kebudayaan Dayak (Laksono dkk., 2006: 21).

Setelah kemerdekaan, agama Kaharingan tidak diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.  Pemerintah Indonesia melihat Kaharingan hanya sebagai “agama suku”, atau “aliran kepercayaan”, atau salah satu aspek dari “adat” atau  “kebudayaan”.  Karena itu, Kaharingan ditempatkan di  bawah  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan bukan di bawah Departemen Agama.   Dengan demikian,  para penganut agama Kaharingan secara tidak langsung  diklasifikasikan sebagai orang-orang yang  “belum beragama”, yang  menurut  Atkinson (1987, 1989) berkonotasi orang yang “tidak berpendidikan” (uneducated),  “yang terbelakang” (backward people),  dan “agama primitif” (uncivilized religion).

Stigmatisasi dan label negatif yang pekat dengan hinaan itu,  memposisikan orang-orang Dayak Kaharingan untuk berhadapan dengan dua bahaya besar.  Bahaya pertama adalah menjadi target proselitisasi  baik oleh Pekabar Injil Kristen maupun oleh Pendakwah Islam  (Ramstedt, 1999, 2004).   Kedua, karena mereka dipandang tanpa agama,  maka dalam iklim politik Indonesia yang khas  mereka bisa saja dituding komunis,  pemberontak dan pengkhianat negara. Dengan demikian umat Kaharingan betul-betul  berada pada posisi “terancam” ketika sentimen anti-komunis merebak pada pertengahan tahun 60-an (Kuhnt-Saptodewo, 2000:64).

Bagi para penganut agama Kaharingan,  situasi yang serba memojokkan itu, menimbulkan kesan bahwa  semua kesulitan dan ketidak-mudahan itu sengaja direkayasa sebegitu rupa  untuk  “memusnahkan” agama ini (Kalteng Post, 3/9/2003).

Berbagai usaha telah dilakukan agar Kaharingan dapat menjadi agama resmi yang diakui oleh negara.   Namun usaha itu terhempang oleh persyaratan “unik”, seperti yang dikatakan oleh   Kipp & Rodgers  (1987: 21) bahwa  untuk  menjadi agama resmi  yang diakui oleh pemerintah haruslah: monotheistik, mempunyai kitab suci, mempunyai nabi dan mempunyai komunitas internasional.

Kendati mengalami banyak hambatan, tokoh-tokoh  agama dan  intelektual Kaharingan  tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan keberadaan Agama Kaharingan di Indonesia.  Pada 20 Januari 1972, dua orang Dayak Kaharingan yaitu Simal Penyang dan Liber Sigai mengambil inisiatif untuk mendirikan Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia (MBAUKI).     Kemudian  pada tahun 1979, mereka mulai mencari kontak dengan Agama Hindu di Bali.

Pada tanggal 1 Januari, atas nama MBAUKI,  Lewis KDR, salah satu pemimpin Kaharingan, mengajukan surat permohonan resmi untuk mengadakan afiliasi dengan Agama Hindu.  Pada tanggal 19 April 1980, melalui SK Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama Republik Indonesia No. H/37/ SK/1980 Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan dikukuhkan sebagai badan Keagamaan yang bertugas untuk mengelola sebaik-baiknya Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan untuk kepentingan umat Kaharingan. Dengan demikian maka Agama Kaharingan berintegrasi dengan Agama Hindu, sehingga muncullah  Agama Hindu Kaharingan.

 Imaji Populer dan Fakta Empirik

Sejak zaman prakolonial, kolonial, bahkan hingga zaman  kemerdekaan,  masyarakat Dayak dilekat-eratkan dengan imaji “manusia liar”, “primitif”, dan “tanpa peradaban”. Kebersahajaan dan keterisolasian mereka dilihat identik dengan “ketidakberadaban” dan “tanpa agama”.

Imaji populer ini melahirkan ide tentang perlunya meng-adab-kan dan meng-agama-kan orang-orang Dayak.  Dari imaji ini muncullah pandangan bahwa bahwa agama Dayak itu tidaklah hanya sekedar agama kegelapan atau tidak mendatangkan keselamatan, tetapi juga tidak bisa diandalkan. Ia adalah kayu lapuk yang tidak bisa dijadikan sebagai tempat berpijak (Witschi, 1942: 85).  Sebagai agama suku, ia akan tumpas  dengan sendirinya karena tidak bisa dikordinir dan diorganisir (Kraemer 1947: 231).  Namun semua itu bertolak belakang dengan fakta lapangan pada masa kini. Witschi sangat tidak menyadari daya adaptif Kaharingan terhadap perubahan sosial dan proses moderenisasi.  Martin Baier, pengamat Kaharingan berkebangsaan Jerman, menyatakan,”At the beginning of the twenty-first century it became Indonesia’s largest, now monotheistic tribal religion” (Baier,  2007:124).

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000 dilaporkan bahwa penganut agama Hindu terbesar di Indonesia setelah Bali terdapat di Kalimantan Tengah yaitu 141. 658 orang, yang sebelumnya menurut data tahun 1971 berada di Jawa Timur (Suryadinata, et. al., 2003: 24, 120).  Hal itu terjadi karena para penganut agama Kaharingan dihitung sebagai bagian dari  Hindu mulai 1980. Pada 2003, penganut agama Hindu terbesar di Indonesia setelah Bali masih terdapat di Kalimantan Tengah yaitu 141.168 orang (Data Keagamaan Departemen Agama 2003).   Pada 2006, menurut Sekretaris Umum Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, di Kalimantan Tengah terdapat 199.805  orang penganut agama Hindu Kaharingan (Wawancara pribadi, Mantikei R.  Hanyi, 2006).  Sedangkan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah, pemeluk agama Hindu di Kalimantan Tengah pada 2006 berjumlah 196.946 orang dan pada tahun 2007 adalah  223.349 orang (Kalimantan Tengah Dalam Angka 2008).

Perkembangan agama Kaharingan tidak hanya terbatas di kalangan orang Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.  Weinstock (1983), menginformasikan bahwa Kaharingan sebagai agama meluas ke suku Dayak Luangan.  Informasi yang senada juga kita dapati dalam tulisan Hudson (1967, 1972) bahwa suku Dayak Ma’anyan di wilayah sungai Barito menyebut sistem agama mereka juga sebagai Kaharingan.   Berdasarkan Komposisi Etnis berdasarkan Agama di Kalimantan Tengah Tahun 2000 (Suryadinata, et. al., 2003) tampak bahwa  hampir semua suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah, misalnya Dayak Tumon di daerah wilayah Barat, dan  Dayak Siang di wilayah Timur, menyebut agama yang mereka anut sebagai Kaharingan.

Kaharingan juga meluas ke luar  wilayah Kalimantan Tengah.  Anna Tsing melaporkan bahwa Dayak Meratus di Kalimantan Selatan menyebut agama mereka sebagai Kaharingan (Tsing, 1993, 1998), begitu juga dengan   orang Dayak Tunjung dan Benuaq di Kalimantan Timur Baier (2007a, 2007b), serta masyarakat Dayak Uud Danum (Ot Danum) yang berada di Kecamatan Embalau dan Serawai Kalimantan Barat. (Bajik Simpei wawancara pribadi, Januari 2009, bdk. Musfeptial & Purwiati, 2004).

Kaharingan dan Kebudayaan Dayak

Tak dapat diragukan bahwa Kaharingan merupakan elemen penting yang membentuk kebudayaan orang Dayak Ngaju.  Hampir tidak ada kebudayaan Dayak Ngaju yang tidak ada kait-mengaitnya dengan Kaharingan.  Ritual penting yaitu upacara kematian Kaharingan tingkat terakhir yang disebut dengan tiwah merupakan arena untuk memproduksi dan mementaskan kebudayaan.  Ritual untuk menghantar roh mereka yang sudah meninggal ke surga yang disebut dengan lewu tatau (kampung yang kaya-raya) itu banyak menghasilkan benda-benda kebudayaan seperti sandung (rumah kecil tempat menyimpan tulang belulang mereka yang  meninggal sesudah  tiwah),   sapundu (patung kayu untuk mengikat hewan korban pada upacara tiwah),  pantar  yang terdiri dari pantar panjang (tonggak kayu yang dihiasi dengan guci china) dan pantar sangaran (tonggak kayu yang dihiasi dengan atau  burung enggang, ular naga serta senjata-senjata)  yang fungsinya untuk menandai lokasi sandung orang-orang yang ternama dan dihormati). Kebudayaan memahat-mengukir atau membuat patung pada orang Dayak Ngaju tampak pada pembuatan sapundu dan sandung.

Pada upacara tiwah juga dipentaskan tari topeng yang disebut dengan habukung atau sababuka yang merupakan representasi dari kehadiran para leluhur dalam upacara itu.  Juga dipertunjukkan tari bersama yang disebut dengan manganjan, dimana laki-laki dan perempuan menari dalam bulatan melingkar mengelilingi  sangkaraya yaitu batang-batang  bambu dihias kemudian yang ditancap melingkar di tanah.

Pada upacara tiwah juga dimainkan alat musik tradisional yaitu garantung (gong).  Untuk itu disediakan satu bangunan khusus yang disebut dengan balai nyahu yang kegunaannya untuk menyimpan alat musik tradisional itu.

Lebih khusus lagi pada upacara tiwah juga diberlakukan hukum adat.  Dimana orang diatur dan ditata untuk mengikuti peraturan suci para leluhur.  Juga identitas dan asal-usul orang Dayak juga ditegaskan dan dituturkan ulang yaitu ketika para pemimpin ritual keagamaan yang disebut dengan basir atau balian, menyanyikan lagu-lagu suci yang berisi tentang asal-usul alam semesta dan penciptaan manusia.

Sebagai kesimpulan, melalui ritual suci ini, orang Dayak Ngaju membangun kebudayaan dan identitas dirinya. Ritual ini tidak bisa ada tanpa adanya Kaharingan. Dengan demikian tampak  bahwa Kaharingan bukanlah kayu lapuk.  [*MM*].

 

[1] Tempon Telon adalah Tokoh Ilahi  yang menghantar roh orang-orang yang telah meninggal dunia  masuk ke dalam sorga (psychopomp)

Tags:

0 thoughts on “KAHARINGAN: BUKAN KAYU LAPUK

Leave a Reply

Your email address will not be published.