SHOPPING CART

close

LUPER AGAU ININ: PAHANTERAN DARI DESA PULAU KALADAN

Dalam suasana wabah covid-19, Kalimantan Tengah secara khusus masyarakat Dayak Ngaju yang berada di aliran sungai Kapuas, Barito dan Kahayan, telah kehilangan seorang tokoh tua yaitu  Basir Upu Luper Agau Inin yang lebih dikenal dengan nama Tukang Hanteran Bapa Salundik. Ia adalah Imam Besar Kaharingan, agama primal masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.

Lahir di desa Kalumpang pada tanggal 10 Oktober 1928 dari pasangan Agau Nihin dan Dawang Saman.  Menikah pada tahun 1949 dengan seorang perempuan di desa Pulau Kaladan yang bernama Hine Agak. Memiliki 7 orang anak kandung: Salundik, Salampak, Timpung, Dehen, Rista, Tunjang, Muhing dan Rantian. Ia meninggal karena usia lanjut pada hari  Senin, 7 Desember 2020, dan dimakamkan dalam ritual mangubur Kaharingan pada hari Minggu 10 Desember 2020 di desa Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Bagi masyarakat Dayak Ngaju di sepanjang sungai Kapuas, Bapa Salundik atau Luper Agau lebih dikenal sebagai pahanteran atau  tukang hanteran yaitu imam atau rohaniwan  Kaharingan yang bertugas untuk menghantar roh orang yang sudah meninggal dunia ke lewu tatau atau sorga.  Tidak semua orang bisa dan boleh menjadi tukang hanteran.  Ini adalah posisi tertinggi dalam hirarki  para imam Kaharingan.

Dalam tradisi Kaharingan dikenal ada 4 tingkatan imam atau rohaniwan.  Tingkatan pertama adalah para imam pemula yang sedang tahap belajar disebut dengan nama basir tapakan katil. Dalam deretan tempat duduk para imam yang disebut katil  mereka berada pada ujung paling kiri dan ujung paling kanan.  Tingkatan kedua adalah para imam yunior yang disebut dengan basir pangapit (basir pendamping). Tingkatan ketiga adalah imam senior yang disebut sebagai basir upo atau imam utama,   biasanya adalah orang yang paling berpengalaman, paling tua dan paling mengerti dalam hal agama, adat, dan tradisi.   Ketika  sedangkan bertugas basir upo selalu berada di tengah, sedangkan basir pangapit yang jumlahnya harus genap berada pada sisi kiri dan kanan.  Mereka bertugas sebagai satu tim atau bersama-sama yang jumlahnya  selalu ganjil yaitu misalnya 7  atau 9.

Basir Luper Agau  berada pada tahap tertinggi atau tingkatan yang keempat yaitu  imam besar yang disebut dengan nama Basir  Duhung  Handepang  Telun atau Pahanteran. Karena itu ia lebih dikenal sebagai Telun/Telon. Dalam acara Tiwah, ia bertugas pada tahap puncak atau bagian terpenting yaitu mahanteran atau mengantar arwah mereka yang meninggal dunia (liau) masuk ke  lewu tatau atau surga. Karena itu ia juga disebut dengan  tukang magah liau (penghantar arwah mereka yang meninggal dunia).

Saat bertugas ia duduk sendiri di atas gong. Menggunakan pakaian kebesaran  seperti Raja  Pampulau  Hawun,  Randin  Talampe  Batanduk  Tunggal pada  saat  melaksanakan Tiwah Suntu di Batu    Nindan  Tarung  Kereng  Angkar Bantilung  Nyaring.  Ia memegang belati keramat yang disebut dohong. Di kepalanya terdapat sampulau dare yaitu  anyaman topi berhias bulu burung enggang. Ia memakai ewah bumbun yaitu cawat di atas celana panjang, memakai karungkung sulau yaitu rompi berwarna merah dengan hiasan cangkang bulat seukuran koin kecil. Memakai lawah yaitu gelang  tangan yang terbuat dari akar-bahar dan kalumit gelang kaki  yang terbuat dari manik-manik logam, dan penyang yaitu sabuk jimat yang terikat di pinggang.

Sendiri di atas gong, sambil memegang dohong, ia menuturkan silsilah manusia dalam sejarah penciptaan. Ia menuturkan lika-liku perjalanan arwah  hingga tiba di negeri asal-usul para leluhur yang disebut  dengan Lewu Liau atau Lewu Tatau.  Semua itu harus diresitasikannya  dalam bahasa kudus para Balian yang dikenal dengan Basa Sangiang yang jauh berbeda dengan bahasa sesehari.  Harus ditutur secara tepat tanpa boleh salah, kalau tidak tepat upacara akan diulang dari awal, atau ia sendiri akan  pingsan bahkan bisa mati.

Cucu Basir Inin Bapa Karamu

Pada mulanya saya tidak terlalu kenal dengan sosok Basir Bapa Salundik. Namanya hanya sekilas muncul bila ada acara Tiwah. Orang-orang selalu menyebut nama beliau sebagai Telon, Tukang Hanteran atau Tukang Magah Liau.  Namun hal itu berubah saat Martin Baier, peneliti kebudayaan Dayak dari Jerman, suatu hari berkata kepada saya “Kita ke Kaladan. Di sana ada Bapa Salundik, tukang Hanteran ahli Kaharingan”

Sebagai dosen muda yang belum berpengalaman saya menurut saja. Dengan menumpang  speedboat Haning, seorang Cina  pemilik  bansaw atau penggergajian kayu di Kalumpang, kami menuju Kaladan. Berangkat subuh dari dermaga kecil di sungai Martapura, melintasi sungai kecil menuju sungai Barito, menelusuri Anjir Serapat hingga tiba di Tumbang Kapuas. Perjalanan masih jauh, kami mesti menyusuri sungai Kapuas atau Dayak Kecil. Hampir pukul 11 siang kami tiba di Kaladan.

Tahun 1998, Basir Luper Agau telah berumur 70 tahun. Sudah berusia tua dan agak sakit-sakitan. Tapi ingatannya masih kuat ketika diminta menuturkan beberapa bagian lunas hanteran atau tuturan untuk menghantar roh orang yang meninggal dunia untuk masuk ke lewu tatau atau sorga. Saya ingat sekali Martin Baier dengan perlahan-lahan bertanya nama sangiang yang merasuk dirinya saat melaksanakan upacara balian, kemudian menulisnya di buku catatannya yang bersampul hitam.

Dari sisi silsilah,  Bapa Salundik atau Luper Agau memang keturunan basir-balian atau orang-orang khusus pelaksana acara ritual kematian Kaharingan.  Ia adalah  cucu dari Basir Duhung Handepang Telon  yang bernama Inin atau Bapa Karamu.  Dalam laporan administrasi Belanda dan catatan para zending, nama Inin atau Bapa Karamu selalu disebutkan sebagai ahli balian atau ritual menghantar arwah.

Secara pribadi saya belajar banyak dari Bue Bapa Salundik, terutama tentang konsepi keselamatan dalam Kaharingan. Ia menjelaskan bahwa keselamatan dalam Kaharingan bukanlah melalui ritual, tetapi melalui karya satu sosok ilahi yang bernama Rawing Tempon Telon, dengan menggunakan semacam bahtera yang disebut Mariaran Lanting Samben, ia menyeberangkan para arwah melewati riam api yang menyala-nyala hingga masuk ke Lewu Tatau atau surga.

Saya sangat berduka-cita dan kehilangan [*MM*].

Tags:

0 thoughts on “LUPER AGAU ININ: PAHANTERAN DARI DESA PULAU KALADAN

Leave a Reply