SHOPPING CART

close

TEKNOLOGI PERTANIAN YANG MUDAH, MURAH DAN RAMAH BAGI PARA PETANI DAYAK

 

 

Tenda sederhana yang berdiri tegak di lapangan desa itu dipenuhi dengan ibu-ibu yang sedang bekerja. Mereka memotong dan mengiris bumbu dapur, menumbuk gula merah serta, memotong-motong tujuh macam buah yang warna-warni.  Tampaknya mereka seperti sedang gotong-royong memasak untuk hajatan desa. Apalagi tercium aroma harum jintan, kapulaga dan cengkeh. Tapi anehnya bumbu-bumbu yang mereka racik itu tidak dimasukkan ke dalam kuali, tetapi dimasukkan ke tong hijau isi 200 liter.

Mereka sedang praktek membuat pupuk cair, herbisida  dan pestisida  dengan bahan dari bumbu-bumbu dapur, rempah-rempah bahkan makanan dan minuman tradisional seperti pakasam dan baram.  Kegiatan ini  dilaksanakan  di Desa Tumbang Lawang, Kecamatan Pulau Malan, Kabupaten Katingan, dengan peserta 20 orang yaitu kelompok petani perempuan yang berada di desa Tumbang Lawang, Dahian Tunggal dan Tewang Karangan.

Pelatihan ini dilatari permasalahan nyata yang dihadapi penduduk yaitu larangan membakar oleh pemerintah. Akibatnya tanah perladangan tanah mereka menjadi tidak subur,  sangat cepat ditumbuhi rerumputan yang mengganggu pertumbuhan padi dan berjayanya hama pengganggu tanaman seperti tikus, sansuruk, sundep, luwai, hampangau, dll..  Larangan itu hanya menjadi larangan yang tanpa solusi, namun terkadang berujung pada kriminalisasi dan pemenjaraan petani tradisional.

Didukung oleh Kementrian Koordinasasi Pembangunan Masyarakat dan Kebudayaan (Kemenko PMK), bekerjasama dengan Pemerintah Desa Tumbang Lawang, Lembaga  Studi Dayak-21  bersama dengan Yayasan Sakula Betang Budaya dan EKD Institut dari hari Minggu 15/11/2020 hingga Selasa 17/11/2020 mengadakan Pelatihan Pembuatan Pupuk Cair Organik dan Herbisida Alami yang bertujuan agar para petani dapat secara mandiri memproduksi pupuk cair, herbisida  dan pestisida organik.  Kegiatan ini diharapkan akan berdampak pada peningkatan produksi padi petani, pengurangan ongkos produksi pengaolahan lahan, serta ramah secara lingkungan karena tidak lagi melakukan pembakaran dalam skala besar (manusul, manyeha) tetapi hanya skala kecil yaitu mambakal dan mamehun yaitu membakar sisa-sisa kayu dalam bentuk simpukan yaitu api unggun kecil.

Untuk sementara, upaya ini menjadi semacam jalan tengah antara memenuhi peraturan pemerintah untuk tidak membakar ladang dan memenuhi kebutuhan pangan dan sayur-sayuran. Marko Mahin, antropolog Dayak dan juga Direktur Eksekutif Lembaga Studi Dayak-21 menjelaskan bahwa pada sisi lain kegiatan ini adalah juga bagian dari Kampanye Pangan Lokal dan Pangan Bijak.  Dimana ibu-ibu diajak untuk bijaksana memilih bahan yang akan dikonsumsi oleh keluarga. Jangan asal membeli sayuran atau pangan, karena terkadang terjadi kecurangan dan kejahatan dalam proses penanamannya.  Untuk mengejar keuntungan, tanaman dipaksa berproduksi banyak dan cepat dengan pemberian pupuk kimia dan penyemprotan pestisida.  Jangan hidangkan racun di piring makan keluarga.  Pilihlah pangan bijak yaitu pangan yang tidak mendatangkan penyakit,  tidak merusak kesehatan dam tidak merusak alam.

Ermine Komala Dara melalui EKD Institut dengan penuh ketelatenan berproses bersama ibu-ibu meracik bahan-bahan alami. Mereka berkutat dengan buah-buahan, rempah-rempah, bumbu dapur. Peralatan mereka adalah lesung, pisau dan telanan.  Hal yang menyenangkan karena ibu-ibu petani diposisikan sebagai subyek aktif yang berpengetahuan.  Bukan sebagai obyek  penderita yang dengan setia duduk diam untuk mendengar khotbah dan ceramah.

Semua bersemangat mendengar Ibu EKD yang mengajak mereka untuk memelihara dan merawat tanah dan memuliakan alam dengan apa yang ada disekitar mereka. Mereka menjadi tangan-tangan yang berproduksi untuk menghasilkan pupuk kehidupan sehingga tanah yang mati bisa berproduksi lagi untuk kesejahteraan manusia. Pabrik pupuk, herbisida dan pestisida  itu sekarang ada di rumah dan dapur mereka. Dengan cara itu mereka dapat menolak bahkan melawan  permainan kotor para kapitalis yang memonopoli harga pupuk untuk kekayaan pribadi mereka.

Imelda Malinda, Ketua Yayasan Betang Sakula Budaya menyatakan bahwa proses pembuatan pupuk cair, herbisida  dan pestisida   ini berbasis pada kebudayaan atau kearifan lokal, bukan teknologi asing yang  rumit dan jauh dari jangkauan pemikiran para petani desa.

Pada hari ketiga kegiatan diadakan di tengah ladang yang akan ditanam.  Ibu EKD berproses dengan para petani untuk menggali kembali kearifan lokal para leluhur untuk meningkatkan produksi hasil pertanian.  Misalnya pada saat padi mulai bunting dilakukan penaburan potongan kecil buah lampesu aatu lampehong dengan tujuan untuk meningkatkan nutrisi tanah sehingga buah padi bernas padat berisi.  Para petani setempat berkontribusi dengan pengetahuan yang ada pada mereka bahwa saat itu padi sedang mengindam, seperri ibu hamil padi juga ingin buah yang kecut dan masam.  Apabila tidak dipenuhi maka mereka akan mengalami keguguran yang oleh mereka disebut dengan mapis yaitu padi kopong tanpa isi. Inilah teknologi kearifan lokal yang ramah dan mudah serta murah.  Hal yang sepatutnya menjadi pertimbangan dalam melakukan revolusi mental dalam bidang pangan. [*MM*].

 

Tags:

You May also Like

No result data

0 thoughts on “TEKNOLOGI PERTANIAN YANG MUDAH, MURAH DAN RAMAH BAGI PARA PETANI DAYAK

Leave a Reply

Your email address will not be published.