SHOPPING CART

close

MAHIR MAHAR

Redup dari ingatan. Jarang disebut dan terlupakan.  Frasa-frasa muram itu seolah melekat-erat dengan Mahir Mahar, sosok penting pendiri Provinsi Kalimantan Tengah.

Di Kota Palangka Raya, namanya dijadikan sebagai nama jalan lingkar luar. Dari sana lamat-lamat namanya disebut namun terdengar lirih, hampir tak terdengar karena bercampur dengan riuh gelak tawa para sopir truk yang singgah di warung remang-remang tempat para pelacur murahan menjajakan diri.

Dalam beberapa data sejarah yang terlacak tampak betapa besar peranan Mahir Mahar mendorong terselenggaranya Kongres Rakyat Kalimantan Tengah di Banjarmasin pada 2-5 Desember 1956. Sebagai ketua panitia kongres, Mahir Mahar terpilih sebagai Ketua Presidium Kongres dan terpilih pula sebagai Ketua Badan Pekerja Dewan Rakyat Kalimantan Tengah. Adalah Mahir Mahar pula yang ditunjuk sebagai ketua panitia guna merumuskan dan mencari dimana daerah atau tempat yang pantas atau wajar untuk dijadikan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Panitia tersebut seterusnya melaksanakan tugas untuk memberi nama bagi ibukota provinsi. Hasil kerja panitia rampung akhir Maret 1957, diserahkan kepada Gubernur Pembentuk Kalimantan Tengah R. T. A. Milono dan diterima baik oleh pemerintah pusat pada awal April 1957.

Sosok Mahir Mahar bagaikan sosok Demiurgos dalam mitologi dewa-dewi Yunani, setelah melakukan pencipataan agung alam semesta langsung mengundurkan diri dan tak pernah tampil lagi.   Penarikan diri itu mengakibatkan terjadinya kekosongan yang akhirnya diisi secara bebas oleh para dewa rendahan.

Hal yang sama terjadi dengan pendirian Provinsi Kalimantan Tengah, ketika pelaku utama tidak terlalu banyak bicara dan kemudian wafat meninggalkan dunia, maka muncul para pemain figuran yang mengaku-ngaku dirinya sebagai tokoh dan pendiri Kalimantan Tengah.

Fenomena tersebut sangat menggelisahkan Timotheus Tenggel Suan atau  T.T. Suan, wartawan senior Kalimantan Tengah. Dengan nada penuh kemarahan, dalam Harian Dayak Pos (Palangka Raya, 26-28/05/2007)  ia menulis satu artikel dengan judul “Mahir Mahar-George Obus-Tjilik Riwut: Trio Pendiri Kalimantan Tengah”.  Dalam tulisannya, T.T. Suan menyatakan hanya ada 3 orang (trio) yang patut disebut tokoh pendiri Kalimantan Tengah yaitu Mahir Mahar, George Obos dan Tjilik Riwut.  Untuk mendukung argumentasinya, ia menyusun secara rinci apa saja hal-hal heroik yang dilakukan oleh ketiga orang tersebut sehingga dapat dibedakan secara tegas antara pelaku utama sejarah dan hanya saksi sejarah saja.

Rentetan kejadian di atas  tidak hanya memperlihatkan bahwa telah terjadi distorsi atas sejarah Kalimantan Tengah, tetapi juga menunjukkan kebutuhan mendesak masyarakat Kalimantan Tengah akan sejarah Kalimantan Tengah yang sebenarnya.   Sehingga generasi masa kini tidak kehilangan akar sejarah dan menjadi sosok yang buta sejarah.

Memang merupakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa masa lampau itu sendiri sebenarnya sudah lewat, tidak ada lagi di hadapan kita secara fisik. Begitu pula dengan tokoh-tokoh penting dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Namun kenyataan-kenyataan masa lampau itu masih tetap ada dalam bentuk informasi yang terekam (recorded information). Informasi itu terekam dalam jejak-jejak yang ditingalkan oleh kejadian-kejadian atau kenyataan-kenyataan yang telah lewat dan lenyap itulah yang disebut sebagai sumber sejarah yang merupakan bahan pokok untuk penulisan sejarah.  Karena itu diperlukan upaya penulisan sejarah yang kegiatannya dimulai dengan pelacakan, pengumpulan jejak-jejak sejarah atau sumber sejarah yang dilanjutkan dengan penulisan sejarah.

Menulis kembali sejarah daerah Kalimantan Tengah telah menjadi kebutuhan dan  merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu bukan karena masa lampau atau demi masa lampau itu sendiri, tetapi menulis mengenai masa lampau demi kepentingan generasi masa kini.  Singgih Tri Sulistiyono, Guru Besar Ilmu Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro Semarang menyebutkan minimal ada 3 manfaat penulisan sejarah lokal atau sejarah daerah pada masa kini[1]:

  1. Sejarah daerah sebagai sarana untuk menggali dan menemukan serta membangun jati diri dan kepribadian daerah (character building);
  2. Sejarah daerah sebagai sarana untuk membangun solidaritas sosial (social solidarity) yang sangat diperlukan dalam pembagunan daerah;
  3. Sejarah daerah sebagai wahana rujuk sosial.

Berkaitan dengan hal di atas, Lembaga Studi Dayak-21, sejak tahun 2019 telah mengambil inisiatif menyelenggarakan satu kegiatan kerja yaitu riset dan penulisan sejarah lokal atau sejarah daerah Kalimantah Tengah melalui sosok tokoh utama pendiri Kalimantan Tengah yaitu Mahir Mahar.

Tujuan dari harapan dari kegiatan itu adalah untuk menghadirkan satu tulisan biografi tokoh Kalimantan Tengah yang bersifat ilmiah populer sehingga dapat menjadi sumber sejarah lokal sebagai bahan pelengkap pembelajaran sejarah lokal yang dapat dipergunakan pada tingkat Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi. Juga untuk menyediakan data historis yang dapat dijadikan rujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah lokal atau sejarah daerah Kalimantan Tengah, secara khusus menjadi rujukan bagi pemerintah ketika mengambil keputusan untuk melahirkan kebijakan dalam bentuk peraturan-peraturan.

[1] Makalah disampaikan pada “Seminar Nasional Peningkatan Kompetensi Penelitian untuk Pengajaran Sejarah di Era Sertifikasi dan Otonomi Daerah” yang diselenggarakan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Kabupaten Kudus bekerja sama dengan Program Studi Magister Ilmu Sejarah Program Pascasarjana Universitas Diponegoro dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Tengah (Kudus, 20 Maret 2009).

Tags:

You May also Like

No result data

0 thoughts on “MAHIR MAHAR

Leave a Reply

Your email address will not be published.