SHOPPING CART

close

FORAGING CENDAWAN DI HUTAN KALIMANTAN

Guntur menggelegar diiringi dengan jatuhnya rinai air hujan. Namun itu sama sekali tidak membuat takut Indang Pitri perempuan Dayak Ngaju yang tinggal di desa Tumbang Lawang,  Katingan. Baginya itu pertanda baik, bahasa alam untuk mengatakan sesuatu.

Guruh yang membahana di angkasa itu, terutama pada musim pancaroba atau peralihan musim, oleh orang Dayak Ngaju disebut dengan  nyahu kulat atau guruh cendawan yang merupakan pertanda akan tumbuh kulat atau jamur. Apalagi jika setelah hujan reda tampak laron (rayap tanah) beterbangan  di sekitar lampu penerang, itu pertanda bahwa akan bermunculan kuat bantilung, jamur yang tumbuh di tanah.

Pada mulanya saya bingung apa hubungannya jamur dengan laron yang berterbangan. Kebingungan itu akhirnya terpecahkan ketika mengetahui bahwa tempat tumbuh kulat bantilung  itu umumnya di gundukan tanah yang disebut dengan tanah ungguh. Karena itu kulat bantilung  juga disebut dengan nama kulat ungguh. Tanah ungguh juga merupakan tempat bersarang laron atau rayap bersayap.  Tampaknya laron merupakan penyebar spora jamur bantilung. Sehingga dimana banyak laoran pasti disekitar itu juga banyak kukat bantilung.

 Dengan membawa lontong ahas yaitu keranjang gendong yang terbuat dari anyaman rotan ahas dan pisau ambang, Indu Pitri bergegas ke Sungai Payan. Di sana rupanya ada sudah banyak ibu-ibu dari desa tetangga juga mencari jamur. Dengan berbisik Indang Pitri menjelaskan bahwa mereka itu datang menyerang mencari jamur ke desa lain karena mereka enggan mencari jamur di  belakang kampung mereka sendiri sebab di sana banyak kuburan. Jamur-jamur itu juga tumbuh di gundukan tanah kuburan.

Ibu-ibu itu bergerak lincah di bawah pohon durian, di antara pohon pisang, di gundukan-gundukan tanah, di bawah pohon lampahung,  bahkan parit-parit kering.  Terdengar teriakan gembira mereka kalau menemukan jamur yang tumbuh menggerombol.  Mereka memanen jamur yang masih kuncup (kudup) maupun yang sudah mekar (mukei).  Karena jamur yang mekar mirip telinga manusia, terdengar celoteh lucu, “Aku dinun epat-lime kapinding” yang secara literar artinya, “Aku sudah dapat empat-lima  telinga”.

Indu Pitri sangat gembira ketika tiba di bawah pohon lampahung yang tampaknya menjadi sarang laron,, sehingga tanah tidak hanya di pangkal pohon tapi juga naik ke batang. Di sana tumbuh kulat batilung yang masih kuncup dan paling enak kalau dimasak tumis.  Rasanya manis dan gurih seperti suwiran ayam kampung muda. Di desa Tumbang Lawang di jual Rp. 10.000,-  hingga Rp. 15.000,-  per bungkusan plastik kecil.

Orang Dayak Ngaju mengenal beberapa jamur yang bisa dimakan (edible mushrooms) antara lain:

  • kulat siau
  • kulat bantilung
  • kulat karitip
  • kulat bitak
  • kulat bapauti
  • kulat bango,
  • kulat maharu,
  • kulat mangkok,
  • kulat pinding papalui,
  • kulat gajah
  • kulat mata pelanduk,
  • kulat suli,
  • kulat nyamu,
  • kulat enyak,
  • kulat tapis bajanyi,
  • kulat danum
  • kulat mangkok.

Menurut penelitian  Djarijah & Djarijah (2001); dan Sinaga (2000), Sunarmi & Saparinto (2010).  jamur memiliki kandungan protein lebih tinggi dibanding kandungan protein pada tumbuhan pada umumnya, jamur mengandung protein dua kali lipat lebih tinggi daripada asparagus dan kentang, empat kali lebih tinggi daripada wortel dan tomat dan enam kali lebih tinggi daripada jeruk.

Inilah pangan lokal yang sangat bermanfaat bagi masyarakat yang kekurangan gizi.  Sumber pangan sehat mempunyai kandungan protein dan kandungan mineral yang tinggi serta ramah atau tidak merusak lingkungan. Sangat mudah dicari karena tumbuh alami di kebun, ladang, atau bekas ladang, di hutan-hutan di Kalimantan [*MM*]

 

Tags:

0 thoughts on “FORAGING CENDAWAN DI HUTAN KALIMANTAN

Leave a Reply

Your email address will not be published.