SHOPPING CART

close

FORAGING RIMBANG BULU

Melakukan foraging atau mencari sumber makan di alam bebas adalah kegiatan sehari-hari masyarakat Dayak Ngaju, terutama yang tinggal di pedesaan. Untuk itu mereka punya banyak istilah, terminologi atau sebutan,  antara lain:

  • manyingkah (mencari singkah atau umbut),
  • mangulat (mencari jamur atau kulat
  • mangalakai (mencari kalakai atau pucuk pakis yang berwarna merah)
  • mambajei (mencari bajei atau pucuk pakis yang berwarna hijau)
  • marabung (mencari rabung atau tunas bambu yang muda)
  • marimbang (mencari rimbang atau terong asam kecil yang tumbuh liar).

Setelah menyusuri sungei Panya, saya tiba di pinggir sungai Palalawan.  Di daerah ini ada banyak bekas ladang yang oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah “bahu”.  Ada bekas ladang yang dibiarkan menjadi hutan kembali, ada juga yang sudah ditebas, dipersiapkan untuk menjadi ladang menanam padi.

Setelah  melintasi “tabengan” yaitu titian atau jembatan darurat terbuat dari batang kayu yang melintang hingga seberang sungai,  akhirnya saya tiba di ladang Indang Pitri.  Tampak ada beberapa tanaman bumbu seperti cabe, jahe, lengkuas,  serai dan kunyit. Juga ada tanaman lain seperti daun ubi kayu dan keladi.  Bekas ladang merupakan lumbung pangan bagi masyarakat pedesaan di Kalimantan.

Sepelempar batu jaraknya dari pondok sederhana milik Indang Pitri saya melihat  pohon rimbang bulu. Terlihat seperti semak dengan ketinggian sekitar 2 meter. Daunnya hijau dan batangnya berduri.  Buahnya bulat bergerombol berwarna hijau pada waktu muda dan kuning pada saat matang.

Tanpa peduli dengan tajamnya duri saya memetik satu persatu buah rimbang bulu. Saya beruntung menemukan yang berukuran besar dan berukuran kecil.  Sambil memetik berkali-kali saya meneguk liur karena membayangkan saat rimbang bulu ini berada di atas cobek terhidang di meja makan dalam bentuk sambal kandas yaitu diulek dengan daging ikan bakar. 

Rimbang bulu Katingan tersohor dengan aromanya yang memancing selera serta rasanya yang masam getir hingga membuat kita tak sadar telah makan lebih dari  sepiring nasi.

Sayangnya masyarakat belum melakukan budidaya atas tanaman yang termasuk suku terung-terungan ini. Rimbang bulu tumbuh liar begitu saja. Ia berkembang biak dengan biji. Dimana biji itu tersebar maka di tempat itu ia tumbuh. Karena persebaran dan tumbuh liar tanpa kendali maka di kalangan masyarakat Dayak Ngaju terkenal istilah “marimbang”  untuk menyebutkan aktivitas seorang pria yang selalu merayu dan menabur benih cinta di hati setiap perempuan yang ia temui. Tentu saja, saat melancarkan rayuan ia tak berkata jujur, mungkin telah mempunyai anak dua tetapi mengaku perjaka. 

Hari ini saya “marimbang” dalam artian yang sebenar-benarnya.

 

Tags:

You May also Like

No result data

0 thoughts on “FORAGING RIMBANG BULU

Leave a Reply

Your email address will not be published.