SHOPPING CART

close

KAMBANG BAHARI (BUNGA PEDAS)

 

T

Tampaknya, cabe atau lombok bukanlah tanaman endemik Kalimantan. Karena rasanya yang panas getir dan pedas seperti lada atau sahang maka orang Dayak Ngaju menyebutnya SAHANG dengan berbagai kata keterangan setelahnya, misalnya:

SAHANG TANDUK untuk menyebut cabai hijau atau cabai merah yang berukuran besar
SAHANG TUNJUK untuk cabe berukuran sedang,
SAHANG RUBIT untuk cabe berukuran kecil,
SAHANG BUA LUNUK untuk cabe yang berbentuk kecil bulat
SAHANG KAMBANG untuk cabe berbentuk agak bulat seperti bunga (paprika).
SAHANG TIUNG karena dipakai untuk memberi makan burung Tiung (Beo) agar cepat bisa bicara.

Untuk membedakan cabe atau lombok dari LADA (sahang) maka orang Dayak Ngaju menamakan lada dengan sebutan SAHANG SALIA yang artinya “sahang yang asli, yang sebenarnya.” Kata “SALIA” memang dipakai untuk membedakan yang utama/pokok, yang murni atau yang sebenarnya dengan yang tidak utama/pokok, tidak murni, atau tidak sebenarnya. Hal itu tampak pada kata-kata:

ANTANG SALIA: Antang yang sebenarnya yang dipanggil dalam ritual meminta petunjuk (manajah antang) bukan antang tabunau atau antang biasa yang dapat dijumpai setia hari.
BEHAS SALIA: Beras utama atau yang pokok, bukan Jelei, Ubi Kayu atau Ketan. Disebut juga dengan “behas toto” atau “beras yang sebenarnya/utama”
BUJANG SALIA: perawan atau perjaka, sesorang yang masih murni, dalam artian belum bercampur atau melakukan hubungan seksual.

Hardeland (1859: 495) dalam kamus Dayak-Jerman (Dajacksch-Deutsches Worterbuch) memang membedakan antara lada dengan cabe atau lombok. Lada diterangkannya sebagai “sahang salia” atau “sahang yang sebenarnya” untuk membedakannya dari yang bukan lada yaitu “Spanischer Pfeffer” atau “Lada Spanyol”. Hardeland tampaknya berpendapat bahwa cabai atau lombok pada mulanya dibawa oleh para penjelajah Spanyol.

Dalam buku-buku sejarah memang disebutkan bahwa masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan membudidayakan tanaman cabai adalah suku Inca (Amerika Selatan), suku Maya (Amerika Tengah) dan suku Aztek (Meksiko) pada sekitar 2.500 SM. Bibitnya disebarluaskan oleh para pelaut Portugis dan Spanyol. Diperkirakan tanaman cabe pertama kali masuk ke Nusantara karena dibawa oleh pelaut Portugis di bawah pimpinan Ferdinand Magelhaens (1480-1521) yang melakukan pelayaran atas prakarsa Spanyol dan pada tahun 1519, Magelhaens mendarat di pulau Maluku.

SAMBABU

Karena dilihat sebagai “tanaman pendatang” maka orang Dayak Ngaju tidak mengklasifikasikan CABE atau LOMBOK sebagai tanaman sayur atau bumbu. Mereka menyebutnya sebagai KAMBANG BAHARI yang secara literal artinya “BUNGA PEDAS”. Dalam buku-buku tulis yang memuat karangan anak-anak Dayak pada zaman zending, mereka selalu menyebut cabe atau lombok itu sebagai KAMBANG BAHARI, sama seperti mereka menyebut varian minuman keras baru mereka kenal misalnya anggur, jenever dll., dengan sebutan DANUM BAHARI (Air Pedas).

Namun bila ditelusuri lebih lanjut, orang Dayak Ngaju memiliki kata tersendiri untuk menyebut cabe atau lombok lokal mereka, yaitu SAMBABU. Juga terasa panas, getir dan pedas. Karena perkembangan zaman, kata SAMBABU perlahan ditinggalkan, mati dan tidak dipergunakan lagi. Di kemudian hari diganti dengan kata “sahang” kemudian diganti dengan kata “lombok.”

Pada tahun 2010 saya pernah berkunjung ke hulu sungai Katingan. Penduduk setempat mengajak saya ke belakang kampung untuk memetik SAMBABU. Pada mulanya saya berpikir itu sejenis kanjat atau rimbang (terong asam). Ternyata itu adalah cabai atau lombok dalam ukuran sedang, rasanya sangat pedas.

Yang membuat saya melongo adalah mereka tidak memetik buah cabai atau lombok itu, tetapi memotong beberapa pohonnya yang berbuah lebat dan memasukkannya ke perahu untuk dibawa ke kampung. Mereka tidak perlu risau karena tanaman cabai atau lombok itu tumbuh sangat banyak hampir satu hamparan bukit kecil. Jadi kalau hanya dipotong 20 pohon tak mempengaruhi keberlangsungannya.

Dengan sangat polos saya bertanya, “Siapa yang sangat rajin dan telaten menanamnya cabe sebanyak itu ?” Warga kampung menjelaskan kepada saya bahwa tidak ada orang yang menanamnya. Bila mereka membuka ladang, setelah dibakar, beberapa hari kemudian sebelum ada satupun bibit tanaman yang ditabur atau ditanam di tanah ladang itu maka terlihatlah tunas kecil dari tanaman cabe yang tumbuh dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan istilah “HARING” yang secara harafiah berarti ada dengan sendirinya, tanpa diadakan atau diolah oleh pihak lain, ada dan hidup dari dirinya sendiri. Saya menduga itu adalah flasma nuftah atau sisa-sisa sel bibit tanaman yang ditinggalkan oleh nenek-moyang mereka yang pernah membuka ladang atau menetap di tempat itu sebelumnya [*MM*].

Tags:

0 thoughts on “KAMBANG BAHARI (BUNGA PEDAS)

Leave a Reply

Your email address will not be published.