SHOPPING CART

close

AIR dan SUNGAI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU

 

Dayak Ngaju adalah penduduk pribumi Kalimantan yang tinggal di wilayah hilir dan pertengahan dari sungai-sungai utama di Kalimantan Tengah yaitu Barito,  Kapuas, Kahayan, Rungan, Katingan, and Mentaya, serta bagian anak-anak sungai, yang memakai dialek atau bahasa  yang secara umum disebut basa Ngaju, satu cabang dari bahasa yang dikenal dengan “Barito family”, dan yang tidak mengklaim diri sebagai anggota dari suku-suku sekitarnya, misalnya Ma’anyan atau  Ot Danum (Schärer 1946, 1963; Hudson, 1972; Schiller 1997, 1987).

Sebagai riverine people, masyarakat Dayak Ngaju mengenal beberapa istilah sehubungan dengan sungai yaitu:

  • Batang Danum : Sungai utama, sungai besar yang merupakan sungai induk misalnya Kapuas, Barito, Kahayan, Mentaya, dll.
  • Sampang Batang Danum: Cabang atau simpang dari  sungai utama, misalnya Rungan atau Miri.
  • Sungei(Batang/Bapa Sungei) : Sungai kecil yang bermuara di sungai utama atau bermuara di cabang  sungai utama, disebut juga Batang Sungei (Sungai Kecil Utama)  atau Bapa Sungei (Ayah Sungai)
  • Sampang Sungei (Anak Sungei): Cabang atau simpang dari  sungai kecil utama, disebut juga Anak Sungei (Anak Sungai)
  • Saka (esun sungei): Sungai yang lebih kecil lagi disebut dengan Saka atau Cucu Sungai. Misalnya Saka Mangkahai, Saka Permai

Bagi masyarakat Dayak Ngaju, sungai-sungai yang membentang bukanlah sekedar air yang mengalir, tetapi merupakan instrument hidup yaitu sumber air minum, tempat mandi, mencuci, tempat mendapat ikan, dan sarana transportasi.   Lebih jauh lagi sungai merupakan orientasi hidup, identitas diri dan bagian dari kehidupan ritual.  Ringkasnya sungai adalah wahana kebudayaan yang di dalamnya masyarakat Dayak hidup.  Tulisan ini hendak memaparkan bagaimana masyarakat Dayak Ngaju membangun budayanya berdasarkan sungai yang ada di keseharian hidup mereka.

Instrument Kehidupan

Sebelum adanya jalan trans Kalimantan, perkampungan masyarakat Dayak Ngaju umumnya berada di sempadan aliran sungai.   Karena mendekati aliran sungai umumnya  perkampungan berada di dataran rendah.  Hal itu berakibat kampung selalu mengalami banjir tahunan dan terendam air pada musim hujan. Untuk mensiasati keadaan alam tersebut,  mereka membuat rumah panggung atau rumah terapung (lanting).  Di beberapa perkampungan, jalan desa yang menghubungkan rumah antar penduduk pun dibuat berupa jembatan kayu atau titian.

Untuk dapat mengakses sungai yang ketinggian permukaan airnya senantiasa berubah, maka setiap rumah ( keluarga batih ) memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci dan jamban ( MCK ).  Batang juga berfungsi  sebagai tempat menambatkan perahu atau kapal, juga tempat meletakkan keramba ikan atau mengikat getah karet sebelum di jual. Terkadang satu batang dipakai oleh beberapa keluarga.

Di atas rakit kayu yang disebut batang inilah para perempuan Dayak banyak melakukan aktifitasnya. Pagi – pagi biasanya mereka sudah turun ke batang untuk mengambil air, mencuci pakaian dan peralatan dapur, mandi atau melakukan kegiatan lainnya. Para lelaki juga  turun ke batang, entah untuk  mengeluarkan air dari dalam perahu atau kapal, memeriksa keramba ikan, dan juga untuk MCK.

Di beberapa daerah dimana ada pedagang sembako dengan menggunakan perahu, misalnya Kuala Kapuas, di batang juga para perempuan dapat berbelanja sayur, ikan dan beras. Ketika hari agak siang, mereka bisa saja turun ke batang untuk menciduk air satu atau dua ember dan kemudian membawanya ke dalam rumah.

Ketika mereka mandi dan mencuci biasanya berlalu – lalang alat – alat transportas sungai pembawa penumpang misalnya perahu klotok ( perahu bermesin ), kapal atau speed boat. Kalau ada salah satu anggota keluarga kebetulan akan bepergian, maka transportasi sungai akan berhenti sebentar di batang untuk menjemput calon penumpang. Dengan demikian batang juga menjadi semacam “pelabuhan”.

Tentu saja ketika beraktifitas di batang para perempuan tidaklah dengan pakaian resmi dan lengkap. Hanya dengan sehelai kain sarung yang dipakai sebagai pembungkus tubuh mereka melakukan kegiatan mencuci dan mandi. Pemakaian busana yang demikian tentunya karena alasan praktis saja yaitu agar tidak repot. Memang ada semacam “kode” dalam acara pemakaian kain sarung ketika mandi dan mencuci di batang. Bila kain sarung itu dililitkan sebatas dada maka perempuan itu (kendati masih tampak muda) adalah perempuan yang sudah menikah atau seorang janda. Bagi perempuan yang belum menikah, kain sarung tidak dililitkan sebatas dada tetapi diikat di bahu.

Di batang bisa saja ada para lelaki yang berbaur mandi dan mencuci. Kaum laki – laki, ketika mandi di batang biasanya berbusana minim lagi, yaitu hanya dengan memakai celana dalam saja. Anak laki-laki yang belum akil baliq biasanya mandi telanjang bulat dan itulah saat bermain yang mengasyikan bagi mereka.  Dengan demikian tampaklah bahwa sungai juga menjadi ruang publik bagi masyarakat Dayak Ngaju.

Identitas Diri

Karena begitu dekat dengan sungai, maka orang Dayak kemudian mengidentifikasi kampung-kampung berdasarkan posisinya di badan sungai.  Jika berada di muara sungai maka nama  depan kampung  adalah tumbang yang artinya “muara”.    Hal yang sama berlaku jika  berada di bagian  teluk, tanjung, atau lubuk (luwuk)   Karena itu tidak heran kalau nama desa-desa mereka antara lain: Tumbang Samba, Teluk Hiri, Luwuk Kanan, Tanjung Sangalang.  Nama desa juga bisa berasal dari nama sungai yang kecil atau anak sungai kecil yang ada mengalir di desa, misalnya Sei Kapar, Sei Jingah, Saka Mangkai, Saka Tampak, dst..

Lebih jauh lagi, orang – orang Dayak mengidentifikasi diri mereka dengan nama sungai utama  yang melintas di depan kampung kelahiran mereka, misalnya Oloh Katingan, Oloh Kapuas, atau Oloh Kahayan. Oloh berarti “orang” sedangkan Katingan, Kapuas, Kahayan adalah nama – nama sungai. Hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah  orang yang berasal dari atau tinggal di daerah aliran sungai itu.

Orientasi Arah dan Nilai

Selain matahari, orang Dayak Ngaju juga memakai sungai sebagai penunjuk arah. Hulu-hilir (ngaju-ngawa) dan atas-bawah (ngambu-ngiwa) adalah cara orang ayak Ngaju memandang dirinya yang muncul dari identifikasi letak geografis  tempat tinggal (rumah) dan kampung halaman mereka yang berada di antara hutan belantara dan tepi sungai.

Ngaju adalah daerah-daerah yang letaknya berada di bagian hulu, dan  ngawa adalah daerah-daerah yang letaknya berada di bagian hilir.  Ngambu adalah daerah-daerah yang berada di bagian atas kampung dan ngiwa adalah daerah yang berada di bagian bawah yang menuju ke arah sungai.

Mereka yang berdiam di muara sungai besar, misalnya sungai Kapuas, disebut sebagai oloh tumbang atau orang muara.  Oloh tumbang atau orang muara, dipakai untuk menunjukkan bahwa mereka berbeda secara geografis  dari mereka yang tinggal di pedalaman atau bagian hulu sungai yang mereka sebut dengan Oloh ngajuTumbang atau muara sungai bagi orang Dayak Ngaju yang pada mulanya adalah masyarakat pemburu dan peramu,  adalah lambang kemapanan, kemajuan atau satu masyarakat yang sudah terstruktur.  Di daerah tumbang mereka membangun kampung, kota dan peradaban, serta melakukan kegiatan politik, kebudayaan dan perdagangan.   Karena itu  kampung atau rumah panjang (betang) biasanya berada di muara-muara sungai.

Muara (tumbang), kampung (lewu) dan  kota (lewu hai), bagi orang Dayak Ngaju yang bekerja sebagai pemburu dan peramu,  adalah lambang kemapanan, kemajuan atau satu masyarakat yang sudah terstruktur.  Di daerah muara (tumbang) sungai kecil atau sungai besar mereka membangun kampung, kota dan peradaban, serta melakukan kegiatan politik, kebudayaan dan perdagangan.   Karena itu  kampung atau rumah panjang (betang) biasanya berada di muara-muara sungai.

Daerah ngaju atau hulu dari muara sungai adalah lambang  sesuatu yang temporer, belum terstruktur dan masih dalam proses liminal.    Daerah ngaju adalah tempat satiar yaitu tempat mencari nafkah hidup, baik dengan bercocok tanam dan mengumpul hasil hutan, tempat  mambatang, mamantung, mahangkang, manggaru, manyating, mandulang (menebang kayu, mengumpulkan getah kayu Pantung, mengumpulkan getah kayu Hangkang, mencari gaharu, mencari Damar, dan mencari emas) Di daerah ngaju mereka hidup dalam komunitas tempat tinggal  yang sementara sifatnya yaitu koloni pondok-pondok sederhana di tepi sungai terpencil yang di kelilingi oleh hutan belantara. Bila musim berganti atau mencari pekerjaan di tempat yang lain, maka komunitas sementara itu ditinggalkan.  Karena itu, ngaju adalah sesuatu yang sifatnya relatif dan tidak stabil, dan tanpa prinsip organisatoris yang menetap.  Daerah ngaju  adalah tempat merantau mengadu nasib mujur,  dan bukanlah tempat asal.   Setelah selesai  berproses dalam arena pengembaraan (namuei-halisang) sementara itu,  mereka harus buli lewu (pulang kampung)  dimana kemapanan dan kenyamanan berada, tempat melaksanakan upacara-upacara keagamaan yang utama.

Di daerah tempat memperjuang nasib dan keberuntungan itu mereka tidak dituntut hidup formal.  Mereka boleh berpakaian seadanya, memakai peralatan yang serba minimalis.  Di hulu sungai Kuatan saya melihat seorang ibu dengan nikmat sekali makan nasi yang dia letakkan di atas daun kayu dan minum dari kaleng sardines.  Dengan tenang ia mengatakan, “Itah toh hong ngaju, damen ih jaton oloh beken kea je mite itah” (Kita ini berada di hulu sungai, tak apa-apa tidak ada orang lain yang melihat kita).   Pondok tempat bernaung pada siang hari dan tidur pada malam hari terkadang jauh dari layak huni.  Karena berada di tengah  hutan dan tempat tinggal yang agak berjauhan, mereka biasa berteriak untuk memanggil satu dengan yang lain.

Sebagai kata penunjuk arah, istilah ngaju-ngawa (hulu-hilir) biasanya dipadankan dengan istilah  hunjun-penda atau ngambu-ngiwa (atas-bawah) dan pambelom-pambelep   (arah matahari terbit-arah matahari terbenam).  Istilah-istilah ini muncul dari identifikasi letak geografis  tempat tinggal (rumah) dan kampung halaman mereka yang berada di antara hutan belantara dan tepi sungai. Sungai di Kalimantan Tengah umumnya mengalir dari arah Utara ke Selatan, jadi umumnya gerak matahari dari arah Timur ke Barat  adalah gerakan memotong arah aliran sungai.

 Ngaju adalah daerah-daerah yang letaknya berada di bagian hulu, dan  ngawa adalah daerah-daerah yang letaknya berada di bagian hilir.  Ngambu adalah daerah-daerah yang berada di bagian belakang kampung dan ngiwa adalah daerah yang berada di bagian bawah kampung yaitu arah menuju ke arah sungai.  Orang Dayak Ngaju terkadang menyamakan istilah hunjun-penda (atas-bawah) yang berarti arah ke atas menuju langit dan arah ke bawah menuju tanah, dengan ngambu-ngiwa yang berarti belakang kampung dan depan kampung.  Bila arah matahari terbit dan arah matahari terbenam (pambelom-pambelep) tidak berlapis atau sama dengan arah ngambu-ngiwa, maka kita bisa melihat bahwa orang Dayak Ngaju mengenal ada delapan titik petunjuk arah: ngaju, ngawa, ngambu, ngiwa, hunjun, penda,  pambelom dan pambelep.  Karena itu, kalau petunjuk arah  ini yang dipakai sebagai identitas diri, maka seharusnya selain ada oloh Ngaju juga ada oloh Ngawa, oloh Ngambu, oloh Ngiwa, oloh Hunjun, oloh Penda,  oloh Pambelom dan oloh Pambelep. Karena di kalangan masyarakat Ngaju tidak dikenal istilah oloh Ngawa, oloh Ngambu, oloh Ngiwa, oloh Hunjun, oloh Penda, oloh Pambelom dan oloh Pambelep, maka  hal itu berarti kata ngaju sebagai kata keterangan tempat untuk menunjukkan arah bukanlah sumber  bagi orang Dayak Ngaju untuk merumuskan identitas dirinya.

Sungai juga menjadi pedoman bagi  orang Dayak Ngaju untuk menata ruang kampungnya menjadi dua oposisi yaitu:

  1. Bagian hulu kampung (ngaju lewu) atau bagian kepala kampung (takolok lewu),
  2. Bagian hilir kampung (ngawa lewu) atau bagian ekor kampung (ikuh lewu)

Pada zaman dahulu ada pembagian yang tegas antara mereka yang tinggal di  “bagian hulu kampung” (ngaju lewu) atau “bagian kepala kampung” (takolok lewu), dengan mereka yang tinggal di “bagian hilir kampung (ngawa lewu) atau “bagian ekor kampung” (ikuh lewu).

Kaum bangsawan, orang-orang besar yang tersohor, pimpinan-pimpinan dan para kepala sudah seharusnya bertempat tinggal di bagian “kepala” bukan di bagian “ekor” kampung.  Sementara para hamba-sahaya atau budak-belian yang disebut dengan jipen atau rewar berada di bagian di “bagian hilir kampung (ngawa lewu) atau “bagian ekor kampung” (ikuh lewu).  Schärer mencatat hal ini demikian:

Pada zaman dahulu, para Utus Rewar tidak diperbolehkan membangun gubuk-gubuk mereka di dalam kampung.  Mereka tinggal di bagian hilir atau di belakang kampung, atau mereka tinggal di anak-anak sungai yang kecil.  Mereka sering tidak kelihatan di dalam kampung   mereka sendiri.  Pada umumnya para Utus Rewar tinggal di luar kampung.  Jika salah seorang dari anggotanya harus tetap tinggal di dalam kampung maka mereka tinggal di hila ngawa, bagian hilir, yaitu lebih ke hilir  setengah kampung.  Terkadang mereka memiliki kampung mereka sendiri, dan kampung-kampung itu juga berada di bagia hilir kampung bekas para majikan mereka (Schärer 1963: 48-9).

Karena itu sampai sekarang tidak ada istilah Dayak Ngawa  sebagai oposisi dari Dayak Ngaju.  Kita mengenal hanya ada istilah Dayak Ngaju yang artinya orang-orang yang mulia, bukan keturunan hamba. Hal itu terjadi karena pada umumnya tidak ada seorangpun orang Ngaju mau menjadi rewar, karena secara sosial dan religius posisi seorang rewar sangatlah buruk dan malang.  Status sosial para rewar sangat rendah (inferior). Tanpa silsilah, tidak jelas keturunan atau asal-usulnya (anonim). Yang paling parah adalah mereka tanpa akses kepada Tuhan dan sorga, bahkan bermimpi tentang sorga pun tidak boleh. Hanya bisa masuk sorga bila mengikuti pemiliknya dengan status tetap sebagai budak-belian (1963:43-50).

Instrument Keagamaan

Orang Dayak Ngaju juga mempercayai bahwa sungai juga menjadi jalan masuk menuju tempat kediaman Jata yaitu  Ilah Tertinggi Perempuan yang berada di Dunia Bawah (atau air primordial ; primeval water). Bagian sungai yang menjadi pintu masuk adalah labehu yaitu bagian sungai yang paling dalam.  Biasanya ditandai dengan pusaran air karena merupakan pertemuan anak-anak sungai dengan induk sungai.

Antara dasar sungai dengan gerbang masuk ke perkampungan Jata, terdapat 13 pintu (lawang) yang terbuat dari bahan yang makin ke dalam makin berharga.  Pintu ke-12 terdiri atas emas murni dan pintu ke-13 terdiri atas intan. Di belakang pintu gerbang itu terdapat  tangga yang menghantarkan orang ke tempat yang paling dalam (Zimmermann, 1969) Karena itu, Ilah Tertinggi Perempuan ini disebut dengan nama Bawin Jata Balawang Bulau (Jata Perempuan yang Bergerbangkan Emas).

Para pengikut Jata adalah para buaya (bajai).  Di Dunia Bawah, mereka berbentuk manusia, dan hanya ketika mereka meninggalkan Dunia Bawah, apakah untuk menolong manusia atau membinasakan manusia, mereka tampak sebagai buaya.  Karena itu, bagi masyarakat Dayak Ngaju, buaya adalah binatang sakral, dan orang-orang berani membunuh mereka hanya ketika para buaya itu telah memangsa seorang anggota keluarga yang tidak bersalah.  Pada saat ini maka dilakukan ritual mangayau bajai yaitu pernyataan perang secara formal dan seremonial  oleh seorang balian ntuk menuntut balas karena kematian seorang warga kampung.

Karena sungai merupakan jalan masuk ke Dunia  Bawah yang merupakan tempat kediaman Bawin Jata Balawang Bulau, maka ada banyak acara – acara ritual yang suci dilakukan di sungai, misalnya membaptis bayi atau memberi nama kepada bayi yang baru lahir (nahunan)  atau ritual meminta kesembuhan, rejeki, keberuntungan dan perlindungan kepada Jata.  Perempuan yang hamil biasanya meminta perlindungan Jata  agar tidak dimangsa oleh makhluk-makhluk air yang berbahaya, bila mereka mandi di sungai.

Lebih jauh lagi, konon kalau orang – orang Dayak meninggal dunia, untuk menuju ke Lewu Tatau atau Sorga Loka mereka tidaklah melewati jalan raya dengan memakai kereta kencana, tetapi menyusuri sungai dengan naik perahu.

Budaya Sungai

Berdasarkan paparan di atas ada beberapa hal yang patut kita catat tentang bagaimana masyarakat Dayak Ngaju membangun budaya berbasis sungai, yaitu:

  1. Mereka membangun kebudayaan yang ramah dengan sungai yaitu membangun rumah panggung dan rumah terapung (lanting), serta titian sebagai pengganti jalan.
  2. Mereka menjadikan sungai sebagai instrument kehidupan dan ruang dimana kehidupan sehari-hari dijalanai
  3. Sungai diinternalisasi ke dalam kesadaran diri, yaitu dengan menamakan tempat tingga dan identitats diri sesuai dengan nama sungai.
  4. Sungai pun menjadi orientasi ruang yang menandakan dan membedakan status penghuni tiap ruang. Misalnya antara orang muara dan pehuluan atau antara kaum bangsawan dan budak.
  5. Sungai dilihat sebagai sesuatu yang religius yaitu sarana menuju tempat Ilah Perempuan Tertinggi dan tempat mengadakan ritual-ritual s

 

Daftar Pustaka

Hudson, Alfred Bacon, 1967    The Barito Isolect of Borneo: A Classification Based on Comparative Reconstruction and Lexicostatistics. Paper at Southeast Asia Program Departement of  Asian Studies, Cornell University, Itacha, New York

Schärer, Hans 1946    Die Gottesidee der Ngadju Dajak in Süd-Borneo, Leiden: E.J. Brill

  • Ngaju Religion: The Conception of God Among A South Borneo People, The Hague: Martinus Nijhoff.

Schiller, Anne. 1987    Dynamic of Death: Ritual, Identity, and Religious Change among The  Kalimantan-Ngaju Ph.D.Disertation  in Cornell University.

1997    Small Sacrifices: Religious Change and Cultural Identity Among    The  Ngaju of Indonesia, New York-Oxford: Oxford University Press.

Zimmermann, P., 1969 [1919]. Studien zur Religion der Ngaju Dajak in Süd  Borneo. Dalam Ethnologica (4)

 

 

Tags:

0 thoughts on “AIR dan SUNGAI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU

Leave a Reply

Your email address will not be published.