SHOPPING CART

close

ASAL USUL WABAH PENYAKIT (Versi Dusun Kadazan)

Asal Usul Wabak Penyakit, Pola Fikir Dusun Mengenai Wabak Penyakit, dan Cara Kaum Dusun Menengani Wabak Penyakit Pada Zaman Dahulu

Oleh:  Dusunology 19 Mac 2020.

 

Mulai 18 Mac kemarin, Malaysia telah menguatkuasakan perintah kawalan pergerakan di bawah Akta 342, Akta Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit 1988. Di bawah Akta ini, pergerakan rakyat dikawal sepenuhnya oleh kerajaan mengikuti Akta 342, bagi mencegah penyebaran penyakit berjangkit. Setakat ini, 19 Mac 2019, “Coronavirus disease 2019” atau “COVID-19”, telah menjangkiti 900 rakyat Malaysia, dan perintah kawalan pergerakan ini diharapkan dapat menurunkan kadar penyebaran dan jangkitan penyakit ini. Bercakap mengenai wabak penyakit, bagaimana pula pandangan kaum Dusun mengenai wabak penyakit dan cara mereka mencegahnya ada zaman dahulu? Di dalam artikel singkat ini, kita akan membahas mengenai mitiologi dan kepercayaan spiritual kaum Dusun mengenai wabak penyakit, dan bagaimana cara kaum Dusun pada zaman dahulu menenganinya. Di dalam topik ini, terdapat tiga tuhan yang perlu kita kenali, iaitu Kinharingan [Kinorohingan], Munsumundok [Suminundu] dan Bisagit. Encyclopedia Mythica mendefinisikan ketiga-tiga tuhan (dewa/dewi) ini sebagai berikut (pantheon.org) :

 

1.  Bisagit

“The god of smallpox, he gave Kinharingan and Munsumundok earth [in exchange for half of the people] on which they placed the Dusuns”.

2. Kinharingan

“A creator deity who emerged from a rock in the middle of the sea with his sister and wife Munsumundok. They walked across the water until they arrived at the house of the god Bisagit. He gave the pair earth and after it was placed, Kinharingan created the Dusuns. In an alternative story, the pair was dirty and when they washed themselves the dirt from their bodies became land. They also created the sun, the moon, and the constellations. One myth state that as there was no food, they killed their child, cut it up and planted it, from which came rice, coco-nut, betel-nut, vines, corn, sugar cane, etc”.

3.  Munsumundok

“A creator goddess, wife and sister of Kinharingan. They emerged from a rock in the sea. After they had received earth from the god Bisagit, Kinharingan created the Dusuns and Munsumundok created the sky. Together they also created the celestial bodies. Since there was no food, they were forced to kill one of their daughters. They cut her into small pieces and planted them in the earth, from which all plants and animals grew”.

 Dari definisi tuhan Bisagit di atas, nampaknya kaum Dusun pada zaman dahulu percaya bahwa asal usul kemunculan wabak penyakit, terutamanya cacar, adalah kerana adanya perjanjian di antara tuhan Kinorohingan dengan tuhan penyakit cacar yang bernama Bisagit, di mana terjadi “transaksi” di antara keduanya; Kinharingan [Kinorohingan] dan Munsumundok [Suminundu] meminta tanah dari Bisagit [yang juga adalah tuhan pencipta tanah], sebagai balasannya, Kinorohingan memberikan kepada Bisagit separuh dari orang Dusun yang ia ciptakan (MacKenzie, 1930:337; Evans, 1922:175). Cara Bisagit mengambil orang Dusun yang dijanjikan oleh Kinorohingan adalah, dengan mengirim wabak penyakit cacar, separuh orang Dusun yang mati akan menjadi miliknya (MacKenzie, 1930:337). Cerita perjanjian tuhan Kinorohingan dengan tuhan Bisagit ini direkod oleh Evans di dalam catatanya mengenai mitiologi “genesis” bangsa Dusun, yang diperolehinya daripada Anggor, seorang informan Dusun dari Tuaran.

Cerita “genesis” Dusun yang diceritakan oleh informan bernama Timpalang dari Tuaran mengatakan bahwa Kinharingan dan Munsumundok telah keluar dari sebiji batu yang besar dan hidup di tengah-tengah lautan. Kedua-dua “divine being” ini mendapati tidak ada daratan di sekeliling mereka (Evans, 1923:46). Maka mereka merayau-rayau berjalan di atas air lautan sampailah mereka sampai ke wilayah tuhan Bisagit, iaitu tuhan yang menciptakan tanah. Kinharingan dan Munsumundok pun meminta tuhan penyakit cacar [god of smallpox] yang juga tuhan pencipta tanah, untuk memberikan kepada mereka tanah. Kinharingan dan Munsumundok membawa tanah tersebut, menghancurkan batu di tempat mereka keluar dan mencampuradukkan batu dan tanah tersebut, sehingga terciptalah daratan. Dari tanah hasil campuran batu dan tanah tersebut, Kinharingan menciptakan bangsa Dusun, sementara itu Munsumundok mencipta langit, kemudian mereka menciptakan matahari, bulan dan tujuh bintang. Mereka mengorbankan anak perempuan mereka, anggota tubuhnya ditanam, sehingga dari anggota tubuh tersebut timbullah segala jenis tumbuhan yang dapat dimakan, supaya bangsa Dusun memiliki sumber makanan (Evans, 1923:46-47).

 Mengenai Perjanjian Kinharingan dengan Bisagit versi dari Anggor, seorang informan dari Tuaran. Menurut versi ceritanya, ketika Kinharingan mencipta bangsa manusia dan bumi, bumi ketika itu belum menjadi keras. Kemudian, Kinharingan mengutus burung “Turipos” kepada Bisagit, tuhan wabak cacar untuk meminta kepadanya tanah. Burung Turipos itu kemudian pergi ke wilayah Bisagit, dan Bisagit bersetuju memberikannya tanah tetapi dengan syarat Kinharingan harus berjanji memberikan separuh bangsa manusia kepadanya; Kinharingan bersetuju dengan tawaran Bisagit. Kemudian, setelah mendapatkan tanah dari Bisiogit, daratan pun menjadi keras hasil campuran dari tanah tersebut, dan setelah itu Kinharingan pun menciptakan manusia dari daratan yang telah keras tersebut. Setelah 3 tahun setelah penciptaan manusia, datanglah Bisagit meminta separuh manusia yang dijanjikannya. Maka, separuh dari manusia menjadi sakit dan mati, separuh lagi hidup. Mereka yang mati akan menjadi pengikut tuhan Bisagit, sementara yang hidup pula mengikuti tuhan Kinharingan. Setelah itu, Bisagit akan kembali setiap 40 tahun sekali untuk membunuh separuh dari manusia melalui wabak penyakit, membawa roh-roh tersebut menjadi pengikutnya (Evans, 1923:47-48).

 Kinharingan berkata kepada bangsa Dusun, “saya akan kembali ke langit; jikalau kamu diserang wabak penyakit, kamu haruslah melaksanakan ritual untuk menangkal wabak penyakit tersebut”. Walaubagaimanapun, tidak semua kaum Dusun melaksanakan ritual tersebut. Bagi kaum Dusun di Tuaran, mereka tidak melaksanakan ritual panangkal wabak penyakit, kerana mereka percaya bahwa ia hanya usaha sia-sia. Alasannya, telah ada perjanjian di antara tuhan Kinharingan dan tuhan Bisagit, jadi mereka akan tetap mati jikalau mereka telah dipilih untuk mati dan akan tetap hidup jikalau mereka tidak dipilih oleh Bisagit untuk mati (Evans, 1923:48). Akan tetapi, berbeza daripada Dusun di Tuaran, Dusun di Kota Belud pula memiliki pandangan berbeza. Mereka percaya bahwa wabak penyakit dapat dihalang memasuki kampung mereka dengan ritual keagamaan tertentu. Seorang informan bernama Yompo dari Kg. Kiau, satu perkampungan di kaki Gunung Kinabalu, pedalaman Kota Belud meyebutkan mengenai tombak berukir figure lelaki yang dipacak di hadapan jalan masuk kampung, sebagai pagar spiritual kampung untuk melawan wabak penyakit daripada memasuki kampung mereka (Evans, 1923:53).

Menurut Yompo, tombak yang diukir dengan figur lelaki tersebut dipacak ketika terdapat wabak penyakit. Di dalam buku I.H.N. Evans yang lain, beliau ada menyebutkan mengenai ritual “Popouli” yang dilaksanakan ketika wabak penyakit muncul, di mana tujuannya untuk mengembalikan roh-roh wabak penyakit tersebut ke tempat asalnya (Evans, 1953:282-287). Di antara bahagian dari ritual tersebut adalah dengan meletakkan tombak dan “tatandok” di hadapan kampung. Wabak penyakit misalnya cacar selalunya dibawa oleh banyak roh dengan seorang raja yang akan memimpin mereka, menyerang dari kampung ke kampung untuk mengutip roh-roh manusia yang mati kerana wabak tersebut. Jadi, ketika gerombolan roh wabak penyakit ini datang ke kampung yang memiliki tombak pemagar di hadapan kampung mereka, roh yang di dalam tombak tersebut akan berkata kepada roh wabak penyakit tersebut, “penduduk kampung meletakkan kami di sini, untuk menghalang kamu. Penduduk kampung di sini adalah rakyat kami, kamu tidak boleh masuk ke dalam! (Evans, 1923:53)”.

Ketika raja daripada gerombolan roh wabak penyakit tersebut bersetuju untuk tidak memasuki perkampungan tersebut, raja tersebut meminta roh tombak yang menjaga kampung tersebut untuk memberitahu kepada mereka arah jalan ke kampung lain. Roh tombak tersebut memberitahu mereka, dan gerombolan roh wabak penyakit ini pun bergerak ke arah kampung lain. Ketika mereka sampai ke kampung lain yang memiliki tombak yang dipacakkan untuk memagar kampung mereka, gerombolan roh-roh sakit penyakit ini tidak akan dapat melihat jalan masuk ke kampung tersebut, kerana di hadapan mereka cuma ada kegelapan tanpa cahaya. Ini kerana, kuasa dari ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh Bobolian, telah menggelapkan jalan masuk ke kampung tersebut dari mata para gerombolan roh-roh wabak penyakit. Tetapi roh-roh sakit penyakit inipun memiliki kuasa untuk menghadirkan cahaya, dengan “rinait” atau “mantera” tertentu, sehingga mereka dapat melihat jalan masuk dan menyerang penduduk kampung (Evans, 1923:53-54).

Akan tetapi, ada kes tertentu, ketika gerombolan roh-roh tersebut tidak dibenarkan masuk ke kampung oleh roh-roh penjaga kampung yang ada di dalam tombak yang dipacakkan, gerombolan roh-roh wabak penyakit tersebut akan berperang melawan roh-roh penjaga kampung yang ada di dalam tombak. Ketika roh-roh wabak penyakit ini banyak yang terbunuh, mereka akan menjadi lemah, sehingga mereka tidak lagi akan berani untuk menyerang kampung-kampung yang memiliki tombak yang dipacakkan dengan gerombolan roh yang menjaga. Ini menandakan wabak penyakit akan mula berkurangan dan akhirnya serangan wabak penyakit berhenti (Evans, 1923:55). Demikianlah idea kaum Dusun mengenai wabak penyakit, bahwa wabak penyakit tersebut datang dari tuhan yang bernama Bisagit dan ketika wabak ini menyerang, wabak itu sendiri mengandungi banyak roh-roh dengan seorang raja yang memimpinnya (Evans, 1953:282).

Menurut I.H.N. Evans, sebanyak 25 atau lebih perahu layar dan rakit mini dibina di dalam upacara Popouli di Kg. Piasau, di mana ada kapal layar mini yang memiliki panjang 5 kaki. Perahu atau kapal layar mini tersebut dibuat dr kayu dan ada yang dibuat dr kayu rumbia dengan kabin di setiap perahu. Perahu-perahu kecil ini dimuatkan dengan persembahan berupa nasi, ayam yang sudah dimasak, rokok tradisi [sigup], tembakau, telur dan sebagainya. Setiap kapal layar mini tersebut harus memiliki 7 sigup dan 3 telur. Atas permintaan dr roh-roh ghaib, kadang-kadang ayam hidup dan burung hidup akan diletakkan di kapal layar mini tersebut. Di kampung tersebut, banner/bendera, lembing dan “tonduk” dipacak di mana-mana sebagai amaran kepada roh-roh tersebut supaya tidak lagi kembali ke kampung mereka (Evans, 1953:282-287). Jadi, kapal layar dan rakit yang berjumlah berpuluh-puluh tersebut menunjukkan adanya antara 400-500 ratus roh di dalamnya yang dikirim pulang, atau mungkin lebih.

Wabak penyakit telah menyerang Kg. Piasau, Kota Belud, pada tahun 1939 dan 1950, dan beberapa kampung kaum Bajau dan Iranun, maka untuk menghentikan wabak penyakit ini, kaum Dusun di Piasau menjalankan ritual “Popouli” yang dijalankan selama 3 bulan lamanya. Pada 11 April 1939, Bobolian Tipah menjalankan ritual Rundukan, tapi gerombolan roh-roh sakit penyakit ini menolak untuk keluar dari kampung kerana raja roh-roh tersebut menolak menerima mereka pulang. Pada 14 April sekali lagi dijalankan Rundukan, roh-roh tersebut berjanji akan keluar dr kampung tersebut pada malam bulan purnama. Tapi seperti layaknya manusia, roh-roh ini sangat tamak, mereka mau disediakan kenderaan ghaib utk membolehkan mereka pulang ke negeri mereka. Sekali lagi ritual Rundukan dijalankan pada 16 April, demikian jg pada 22 May, tapi roh-roh tersebut belum bersedia untuk kembali. Pada 4 Julai 1939 ritual Rundukan dan Popouli dijalankan, dan roh-roh sakit penyakit ini mengatakan pada Bobolian mereka sudah bersedia untuk dihantar kembali ke negeri mereka. Setelah ritual dilaksanakan, roh-roh wabak penyakit dikembalikan, barulah wabak penyakit berhenti.  

____________________

Note : gambar diambil dari sumber “The Religion of the Tempasuk Dusun of North Borneo”, 1953, by I.H.N. Evans, Plate III.

Note:  Taken from: https://www.academia.edu/42298504/Asal_Usul_Wabak_Penyakit_Pola_Fikir_Dusun_Mengenai_Wabak_Penyakit_dan_Cara_Kaum_Dusun_Menengani_Wabak_Penyakit_Pada_Zaman_Dahulu

Tags:

0 thoughts on “ASAL USUL WABAH PENYAKIT (Versi Dusun Kadazan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.