SHOPPING CART

close

WABAH PENYAKIT DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU (Bagian 2)

Raja Peres, Raja Puru

Orang Dayak Ngaju melihat  wabah penyakit bukanlah sebagai sesuatu yang asing, tak dikenal atau tak ada kait-mengait dengan dirinya.  Mereka menempatkan wabah penyakit itu ke dalam silsilah para leluhur (theogony), manusia (geneology), sejarah suku (history), dan sejarah alam-semesta (cosmogony).  Hal itu tampak jelas dalam tuturan suci para balian[i] yang disebut dengan Panaturan[ii] di sana mereka menempatkan wabah penyakit sebagai bagian dari sejarah diri sendiri dan sejarah suku.  Wabah penyakit dikaitkan dengan penciptaan atau kejadian asal-mula alam semesta. Bagi mereka wabah penyakit itu sudah sejak semula telah ada seiring dengan sejarah penciptaan alam-semesta. Dalam perkembangan selanjutnya dilihat sebagai cara atau sarana bagi Sang Pencipta untuk memanggil kembali sang ciptaan yang bernama manusia untuk kembali atau pulang ke asal-mulanya.

Berdasarkan pemikiran itu maka mereka selalu menghubungkan segala macam penyakit dengan satu sosok ilahi yang mereka sebut dengan nama Raja Peres atau Raja Puru.  Schärer (1946) menerjemahkan nama itu sebagai “Raja Penyakit Cacar atau Raja  Penyakit Menular”, yang berdiam di satu kampung yang terdapat di satu pulau di tengah samudera raya. Segala sesuatu di kampung itu berwarna serba hitam.  Dari sana ia dan para pengikutnya  naik kapal hitam,  mendatangi umat manusia satu tahun sekali, biasanya setelah panen,   dengan penyakit menular dan wabah seperti kolera, cacar, dll.. (1946, 1966) Perlu ditambahkan bahwa puru yang dimaksudkan oleh orang Dayak Ngaju biasanya dikaitkan dengan penyakit patek atau beri-beri ( framboesia tropica)  dan segala   macam-macam penyakit kulit sejenis bisul, seperti sabangak, samah dan lain sejenis itu (lihat Klokke 1998)

Kita harus mengkritik tulisan Zimmerman (1877/1917) karena pengetahuannya yang terbatas sehingga dengan tergesa-gesa mengidentifikasi Raja Peres sebagai Raja Sial. Padahal dalam silsilah para sosok ilahi (sangiang), Raja Sial adalah sosok yang sama sekali lain dan berbeda dari Raja Peres.  Schärer (1946) telah mengkoreksi pendapat itu dengan menjelaskan bahwa nama lengkap  Raja Sial adalah Tamang Tarai Bulan, Tambun Panton Garantong yang artinya Ular Naga Penabuh Gong Tembaga.  Ia berdiam di Dunia Atas pada satu tempat yang bernama Gunung Handut Nyaho, Kereng Tatabat Kilat yang artinya Gunung Guntur dan Kilat.  Ia mengejar umat manusia dengan sesuka-hatinya, membawa nasib sial ke atas mereka, dan apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang itu tidak bisa berhasil. 

Hal yang patut jadi perhatian  dari tulisan Zimmerman adalah ia ada mencatat tentang upacara Arut Sial yaitu pembuatan  satu rakit atau perahu kecil dan di atasnya diletakkan segala macam sesajen berupa makanan, pakaian dan sebagainya, antara lain  seekor ayam hitam atau seekor babi.  Kemudian rakit itu dilarutkan di sungai, menghilir,  siring dengan nyanyian para Balian.  Di wilayah sungai Kapuas  disebut dengan Jukung Sadiri  adalah miniatur perahu untuk meletakan persembahan ganti diri. Dulu para leluhur,  ketika merasa dirinya akan diterpa ancaman bahaya dan malapetaka, maka mereka membuat patung kecil dari tepung beras yang disebut dengan patung sadiri atau patung pengganti diri.  Patung itu diletakan di atas perahu kecil dan dihanyutkan di sungai. Konon dengan cara itu, wabah penyakit, malapetaka dan bencana juga akan hanyut dan menjauh atau tidak sampai ke kampung tempat tinggal.

Dalam Tuturan Para Balian

Dalam tuturan suci para balian,  diriwayatkan bahwa Raja Peres yang merupakan penghulu dari semua penyakit merupakan sosok atau pribadi yang tidak hanya berkepribadian tetapi juga memiliki sejarah dan asal-usul seperti halnya manusia atau sosok ilahi lainnya.

Diceritakan bahwa pasangan manusia pertama yang menjadi leluhur orang Dayak Ngaju adalah Manyamei Tunggal Garing Janjahunan Laut  (selanjutnya disebut Manyamei)  dan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan (selanjut disebut Kameluh). Setelah tinggal bersama, maka Kameluh pun hamil. Tetapi setiap kali hamil, hingga 12 kali, ia selalu mengalami pendarahan dan keguguran. 

Pada kehamilan pertama, Kameluh mengalami pendarahan. Darah yang mengalir keluar sebanyak satu lumpang itu diambil oleh Manyamei, dibungkusnya dengan kain hitam kemudian diletakkan dalam bokor tembaga (sangku). Selanjutnya dibawa ke pinggir sungai lalu diletakkan di atas rakit yang terbuat dari pohon Bamban dan dihanyutkan. Rakit itu larut  bersama arus sungai hanyut  ke hilir  menuju laut.

Setiba di laut, darah yang dibungkus dengan kain hitam itu menjelma menjadi satu sosok ilahi yang bernama Sarupui Biha Apui atau Sahipui Biha Apui yang kemudian peranakan Sahumpak Buren Petak. Sahumpak Buren Petak menurunkan Kasisik Buren Tasik. Kasisik Buren Tasik menurunkan Putir Tenung Silu dan Kameluh Bembang Ruang. Kameluh Bembang Ruang  mempunyai beberapa keturunan dan mereka semua menjadi asal-usul dari  Dahiang yaitu segala pengaruh buruk dalam kehidupan manusia. Sedangkan Putir Tenung Silu melahirkan tiga orang anak yaitu Karang Rajan Peres,  Bujang Kamising, Rayung Sangengem. Turunan merekalah yang kemudian menjadi bermacam-macam penyakit dan mereka berdiam di samudera raya yang disebut dengan Kalimbahan Laut Mangantung. (Panaturan 1992, Panaturan 2003).

Berbagai macam penyakit itu, para keturunan dari Putir Tenung Silu kemudian dilihat sebagai sosok ilahi pencabut nyawa agar manusia kembali kepada penciptanya.  Biasanya setelah tiga hari seseorang meninggal makan diadakan ritual Balian Tantulak Ambu Rutas Matei.  Dalam ritual itu para balian menuturkan perjalanan seorang sosok ilahi yaitu  Sangiang Raja Dohong Mama Tandang, Langkah Apang Bungai Sangiang dari Bukit Pasahan Raung (alam kuburan) menuju ke Laut Mangantung Sampang Hariran Manunyang tempat tinggal  Karang Rajan Peres untuk mengambil roh kehidupan abadi manusia (liau haring kaharingan)  yang meninggal,  yang disimpan oleh Raja Peres   dalam kapal besar berberbentuk bulat yang disebut dengan nama Banama Bunter Dia Haluana, Anjung Bulat Isen Kamburia (Panaturan 2003: 434).

Pada kehamilan kedua, saat sedang mandi di sungai  Kameluh kembali mengalami keguguran. Darah yang mengalir keluar dari tubuhnya langsung larut terbawa arus. Dan kemudian menjelma  menjadi Ular Malang Laut.

Ular Malang Laut menurunkan Gajah Baparang Panjang. Gajah Baparang Panjang menurunkan Tambun Lalujung Bunu, Ihing Lampaian Sawang, Ginteng Tolong, Tabang Beang, Tampak Mangkuk Darap Kajang, Bawi Bujang Labata, Rayung Tantan Gunting, Desan Jata Balawang Bulau, Rayat Sangkuada Bapagar Hintan. Turunan Ular Malang Laut menjadi raja-raja segala macam penyakit  (peres baratus ganggarunan arae, sampar baribu sasabutan bitie).  Mereka berdiam di palung atau tubir sungai yang paling dalam (Panaturan 2003: 37-38).

 

Dari penelusuran di atas, tampak bahwa Raja Peres yang dilihat sebagai sumber segala penyakit merupakan saudara kandung dari umat manusia. Memiliki sejarah dan asal-usul yang sama dengan manusia. Satu rahim, satu kandungan dengan umat manusia. Pada kehamilan yang ketiga belas, akhirnya Kameloh mendapatkan tiga orang anak kembar yaitu Raja Sangiang, Raja Sangen dan Raja Bunu.  Raja Bunu kemudian diturunkan ke bumi dan menjadi leluhur umat manusia di bumi. [ BERSAMBUNG…]

[i]  Balian adalah para rohaniwan agama Kaharingan atau pemimpin ritual keagamaan dan ritual penyembuhan

[ii] Panaturan adalah cerita asal-usul tentang awal mulanya segala sesuatu

Tags:

2 thoughts on “WABAH PENYAKIT DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU (Bagian 2)

  • Rosi

    Bacaan yg luar biasa,sangat bermanfaat untuk diriku secara pribadi🙏

    • admin

      Terimakasih 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published.