SHOPPING CART

close

WABAH PENYAKIT DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU (Bagian 1)

 

Pandemi atau wabah penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Dayak Ngaju. Dari sejarah lokal yang dituturkan secara lisan ada banyak cerita  dari para penduduk kampung terutama yang telah berusia di atas 70 tahun tentang bagaimana mereka harus mengungsi ke rumah atau pondok yang ada di kebun atau ladang untuk menghindar penyakit yang melanda kampung. Mereka harus pergi meninggalkan kampung karena penyakit memang sangat mengerikan. Terjadi kematian beruntun, sehingga ada banyak anggota keluarga yang pagi hari mengubur, sore hari dikubur.

Dari sejarah lisan tentang desa-desa juga tampak salah satu alasan masyarakat Dayak Ngaju membangun pemukiman baru dan meninggalkan pemukiman yang lama adalah karena terjadi wabah penyakit.  Pemukiman yang lama akhirnya tidak didiami dan hanya menjadi bekas kampung yang disebut dengan istilah kaleka. Sebagai contoh Kaleka Lapetan yang berada di desa Bahu Palawa.  Pada mulanya leluhur penduduk desa Bahu Palawa tinggal di wilayah seberang sungai, satu tempat yang bernama Lapetan,  namun karena terjadi serangan wabah penyakit  maka mereka meninggalkan tempat itu dan membangun tempat pemukiman yang baru. Pada masa  kini bekas kampung yang ditinggalkan disebut dengan nama Kaleka Lapetan (Lihat Jemi dkk., 2015).

Dalam Arsip Zuider-en Oosterafdeeling van Borneo (ZOB)  No. 108, J. Rubenkoning melaporkan bahwa setelah terjadi wabah  antara tahun 1800-1801 kepala suku Dayak di sungai Kahayan mengajukan permohonan pemotongan pembayaran pajak kepala karena lebih dari setengah dari total jumah penduduk telah tewas karena wabah cacar. Dari studi atas arsip terakses, oleh Han Knappen dalam bukunya Forest of Fortune ? The environtmental history of Southeast Borneo, 1600-1880, tampak bahwa selain menderita karena kebanjiran dan kekeringan serta hama tikus yang menyebabkan gagal panen, orang-orang di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah pada waktu itu  juga menderita karena wabah kolera (cholera), cacar (smallpox) dan campak (measles). Wabah kolera dilaporkan sudah terjadi pada tahun1750 dan 1751, wabah cacar sudah terjadi sejak 1779-1780, sedangan campak dilaporkan terjadi sejak 1826 (Knapen 2001, Appendix 1, Overview of disaster, 1747-1880).

Wabah kolera tampaknya  dari abad 16 terus berlanjut hingga ke abad 20. Hal itu dapat kita lihat dalam laporan Lumholtz yang melakukan perjalanan keliling pulau Kalimantan antara tahun 1913 dan 1917.  Dalam bukunya (1920) ia menulis tentang penyakit yang ditemukannya di kalangan orang Dayak pada waktu yaitu kolera, penyakit kulit. Kolera juga terjadi di hulu Barito, dan wabah kaki gajah atai beri-beri yang terjadi di sungai Mentaya dekat Sampit (1920: 110, 176, 377).

Hans Schärer dalam bukunya The Gotteesidee der Ngadju Dajak in Süd Borneo melaporkan penyakit menular di kalangan orang Dayak Ngaju selain kolera dan campak, juga menyebutkan penyakit kusta yang oleh masyarakat setempat dengan samah, dan penyakit kelamin menular (1946: 20, 26, 62, 143, 55).

Dari data-data tersebut di atas tampa bahwa wabah merupakan pengalaman empirik masyarakat Dayak Ngaju, sesuatu yang telah dialami sejak nenek-moyang. (Bersambung…)

Tags:

0 thoughts on “WABAH PENYAKIT DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.