SHOPPING CART

close

CARA ORANG KAYAN MENGOBATI PENYAKIT

 

Suku-suku Borneo Tengah hanya mempunyai sedikit cara yang baik untuk memerangi berbagai macam penyakit yang menyerang mereka. Peran terpenting dalam cara pengobatan mereka adalah pembacaan mantera; pengusiran roh jahat yang menyebabkan penyakit itu, dengan bantuan roh baik yang ditolong oleh para dayung. Jiwa pasien yang telah terbang pergi harus dibawa kembali agar keseimbangan jasad dapat dipulihkan. Tetapi mereka tidak lalu menjadi tenggelam begitu saja dalam kepercayaan mereka terhadap roh- roh. Mereka tetap mampu melihat dengan mata mereka sendiri bahwa beberapa hal mempunyai pengaruh yang baik atau tidak baik terhadap jalannya penyakit. Dari pengamatan ini, orang Bahau mengembangkan sistem larangan makanan diet yang rumit yang diterapkan pada setiap penyakit, di samping pembacaan mantera oleh dayung.

Mereka berusaha memerangi penyakit dengan melarang menyantap makanan tertentu, mandi, melakukan pekerjaan berat, dan sebagainya. Untuk penyakit yang berbeda-beda terdapat peraturan-peraturan yang juga berbeda-beda. Sebagian peraturan-peraturan itu telah dipilih dengan begitu tepat, sehingga penentuan hal-hal yang dilarang itu rupanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman.

Larangan bagi penderita diare: nasi keras, air gula tebu, pisang, nasi ketan, pisang rebus, minum air dingin, beberapa jenis ikan, dan mandi pada waktu air tinggi (yakni waktu air dingin); yang diperbolehkan ialah makan nasi lembut dan ikan yang baik.

Larangan bagi penderita demam: air dingin, air gula tebu, gula, kue-kue, dan mandi pada waktu air tinggi.

Larangan bagi penderita batuk: makan keladi (Colocasia antiquorum), gula, air gula tebu, nasi ketan yang dibakar dan beberapa jenis ketimun, merokok, menyirih, kerja keras.

Larangan bagi penderita radang lutut: berjalan, turun dari tangga, nasi yang kering dan keras, ikan bertulang, daging babi, telur, garam, dan daun pohon yang dapat dimakan.

Mengingat bahwa orang-orang Melayu di Borneo tidak mengenal cara pengobatan seperti ini, cara pengobatan itu merupakan prestasi yang luar biasa bagi orang Bahau. Kita pun pantas mengagumi peraturan- peraturan itu, bila kita melihat bahwa sebagian besar dari larangan-larangan itu sesuai dengan pengetahuan kedokteran modern. Mengingat cara hidup orang Bahau, tidak adanya obat-obat yang baik, serta kondisi tubuh mereka yang lebih kuat, maka cara pengobatan mereka memainkan peranan yang lebih penting bagi pemulihan kesehatan daripada untuk orang Eropa dalam lingkungan hidupnya.

Juga terhadap penyakit kulit, sistem larangan diterapkan. Karena untuk penyakit penyakit ini mereka mempunyai obat-obatnya, orang Bahau sanggup menyembuhkan penyakit-penyakit kulit mereka, sama seperti dokter-dokter Eropa. Selama masa pengobatan tradisional, pasien tidak boleh mandi, tidak boleh berkeringat, dan tidak menggaruk; ia juga dilarang makan manis-manisan, bambu muda, keladi, pucuk paku, garam, daging babi, cabai, dan makanan dari tepung.

Karena obat-obatan yang digosok pada kulit berbentuk larutan, ketiga larangan yang pertama memang masuk akal. Tetapi pantangan makanan kurang berfaedah dan sebaiknya mereka justru makan hal-hal yang dilarang itu daripada tidak memakannya. Larangan itu hanya memperberat cara pengobatan sehingga hanya sedikit- saja orang yang tekun mengikutinya. Kemujaraban obat-obatan mereka sering hanya untuk sementara waktu, karena orang Bahau tidak menyadari bahwa penyakit-penyakit ini menular, dan muncul kembali melalui pakaian, tikar, dan barang-barang pribadi lainnya.

Kebiasaan berpantang ini sudah begitu mendarah daging, sehingga pada waktu saya memberi obat kepada mereka, mereka langsung bertanya apa yang lali (dipantangkan). Apa pun larangan makanan yang saya berikan, saya selalu melihat bahwa larangan-larangan ini diikuti dengan setia. Sering saya hanya melarang satu atau dua jenis makanan saja agar mereka tetap percaya akan obat-obat yang saya berikan. Pada kesempatan lain hal ini sangat penting, karena soal mengikuti pantangan-pantangan mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada obat-obatnya sendiri, dan dalam merawat anak-anak yang masih sangat kecil hal ini sering merupakan satu-satunya jalan. Pada waktu berjangkit penyakit yang mirip kolera, saya berpendapat bahwa cara pemakaian air minum harus diatur.

Dengan bantuan Akam Igau dan Tigang, saya meminta dayung untuk mengadakan pembacaan mantera secara besar-besaran, selama empat hari melarang minum air yang tidak dimasak, dan memberi peringatan tentang soal mandi; tetapi hal yang terakhir ini sulit dituruti.

Tujuan terpenting dari pembacaan mantera adalah untuk mencegah roh-roh jahat—yang menyebabkan penyakit—agar tidak mendatangi penghuni rumah dari sungai melalui jalan-jalan setapak. Untuk maksud tersebut dipasanglah rotan-rotan setinggi sekitar satu meter di sepanjang tepi sungai di depan rumah, dan pada rotan untuk setiap jarak dua meter digantungkan daun long untuk menangkal roh jahat. Di tempat tali ini memotong jalan, pada kedua sisi jalan itu didirikan patung kayu yang dibuat secara kasar dengan kapak, satu patung perempuan dan satu patung laki-laki, keduanya dilengkapi dengan tombak, parang, dan perisai dari kayu untuk menakut-nakuti roh-roh jahat; alat kelamin pada kedua patung itu juga dibuat besar-besar. Pada alat kelamin patung laki-laki diberi palang, sesuai cara Kayan.

Obat-obatan Kayan yang baik hanyalah obat-obat terhadap penyakit kulit. Dua di antaranya segera memberi kesembuhan: (1) orokup, daun-daun Cassia alata, yang di tempat-tempat lain di Nusantara juga dipakai terhadap penyakit kulit; (2) nyerobw bulan (Busang) atau minyak pelanjau (Melayu), sejenis minyak hitam yang berbau ter, yang mengalir keluar dari teras kayu hitam sebuah pohon, yang di Borneo mempunyai nama yang sama, dan kelihatannya hanya tumbuh di sana. Kalau ditegakkan, getah yang setengah padat ini mengalir keluar, yang disebut tanah pelanjau. Bila ditaruh pada kulit, getah itu akan menyebabkan terjadinya peradangan. Pernah saya melihat getah itu, yang tidak dicampur apa-apa, digosokkan pada kulit perut seorang anak, yang menyebabkan kulit perutnya mati dan terjadi luka yang dalam.

Setiap hari orang Kayan menggosok dirinya dengan orokup, dan dengan demikian berhasil menghilangkan lusung mereka secara perlahan-lahan, tetapi dengan lebih cepat lagi menghilangkan kurab mereka.

Itu sebabnya nyerobw bulan lebih sering dipakai terhadap lusung, setelah getah ini dicampur dengan air tebu. Bila digosokkan dengan baik dan jarang mandi, pasien yang ditutupi lusung sekujur tubuhnya—suatu keadaan yang sering •ditemukan—dapat sembuh dalam 14-20 hari.

Suatu obat yang sangat baik tetapi mahal bagi orang Kayan adalah minyak tanah, yang bila digosokkan pada bagian kulit yang sakit, akan menyebuhkan dalam delapan hari.

Karena lusung menyisik kulit sehingga memberi warna putih kulit penderita, setelah sembuh kulit mereka menjadi hitam arang, warna yang tidak kelihatan pada orang Bahau dan yang segera dapat diketahui. Di Sambas saya mengobati lusung pada sebagian kulit seorang pasien dengan larutan sublimat, dan kulitnya memperlihatkan warna hitam yang sama setclah sembuh. Saya lebih senang memakai iodium tinktur untuk mengobati penyakit ini, dan memang kulit orang Dayak lebih tahan terhadap obat ini daripada kulit orang Eropa.

Cara pengobatan orang Kayan lainnya terdiri atas pengambilan darah, mencacah, dan pengurutan. Terutama pada bagian badan yang nyeri dan bengkak, dipakai dua cara pengobatan yang pertama. Pengambilan darah dilakukan dengan membuat banyak sayatan pendek dengan pisau kecil yang tajam. Pendarahan dibiarkan berhenti sendiri. Saya tidak melihat obat untuk menghentikan pendarahan. Pembuatan gambar-gambar cacah yang kecil pada bagian kulit yang meradang rupanya sama fungsinya dengan pengambilan darah.

Pada waktu sakit perut atau sakit punggung, pasien biasanya diurut, yang lebih mirip meremas daripada menggosok. Terutama para dayung melakukan hal ini, dan juga pengambilan darah; beberapa di antara mereka memperoleh semacam kemasyhuran dalam bidang ini.

Mereka tidak berdaya menghadapi luka-luka dan hanya membersihkannya dengan air dan kapok. Pendarahan yang dahsyat tidak dapat mereka hentikan. Tetapi mereka mengalami kemajuan dengan merawat cuping telinga yang sobek, dengan membuat luka baru dan menyambung kedua luka ini sehingga dapat bertumbuh menyatu kembali.

Dalam hal bersalin, satu-satunya bantuan yang diberikan ialah mengurut perut dengan tangan. Pendarahan dahsyat akan mempunyai akibat fatal, kalau tidak berhenti sendiri.

 

(Sumber: A. W. Nieuwenhuis, Di Pedalaman Borneo: Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994: 42-44

 

Tags:

You May also Like

No result data

0 thoughts on “CARA ORANG KAYAN MENGOBATI PENYAKIT

Leave a Reply

Your email address will not be published.