SHOPPING CART

close

KENCENG-KETEL: Catatan Etnografi Tentang Masak-Memasak di Kalangan Masyarakat Dayak Ngaju

 

Antropologi makanan (Anthropology of food) adalah sub- disiplin antropologi yang menghubungkan perspektif etnografis dan historis dengan masalah sosial kontemporer dalam sistem produksi dan konsumsi makanan.

Meskipun catatan antropologis awal sering berurusan dengan memasak dan makan sebagai bagian dari ritual atau kehidupan sehari-hari, makanan jarang dianggap sebagai titik pusat fokus akademik. Namun hal ini berubah pada paruh kedua abad ke-20, ketika karya dasar oleh Mary Douglas, Marvin Harris, Arjun Appadurai, Jack Goody, dan Sidney Mintz mengokohkan studi tentang makanan sebagai wawasan kunci ke dalam kehidupan sosial modern. Mintz dikenal sebagai “Bapak antropologi makanan” untuk karyanya Sweetness and Power (1985), yang mengaitkan permintaan gula Inggris dengan penciptaan kerajaan dan kondisi tenaga kerja industri yang eksploitatif.

***

Tahun ini, di tengah pandemi corona, saya bertekad “menghukum diri” untuk mengumpulkan, merapikan, menulis ulang catatan-catatan lapangan saya berkaitan dengan makanan atau masak-memasak di kalangan masyarakat Dayak Ngaju. Catatan remeh-temeh sebenarnya, namun ketika ditata ulang menjadi mozaik yang menarik.

Tentu saja, sebagai antropolog pada Bab-1 saya mulai dengan teori-teori tentang antropologi makanan. Ada banyak buku, artikel dan tulisan yang saya baca, hal itu sedikit banyak mempengaruhi saya ketika membuat catatan etnografi di lapangan. Saya dipengaruhi oleh Levi Strauss dan Victor Turner ketika memperhatikan bubur merah-putih pada saat ada ritual memandikan bayi. Saya juga sangat dipengaruhi oleh Marvin Harris ketika melihat para peladang Dayak menanam padi mereka.

Pada Bab 2, saya bertutur panjang tentang kegiatan masak-memasak di masyarakat Dayak Ngaju, suku saya sendiri. Hampir tidak ada teori pada bagian ini, hanya catatan etnografi. Tetapi etnografi adalah ruh atau jiwa dari antropologi.

 

 

Saya mengawali bagian ini dengan konsepsi tentang makan dan makanan, kemudian bergerak ke dapur tempat memproduksi makanan. Saya juga membahas tentang padi atau beras yang adalah makanan pokok masyarakat Dayak. Selanjutnya ada catatan etnografi tentang ragam-macam teknik memasak, juga ragam-macam masakan. Tak ketinggalan ada catatan tentang konsep pantang-tabu berkaitan makanan, tentang makanan ritual dan makanan untuk obat-obatan.

Tulisan selanjutnya berjudul KUMAN ASU secara literal berarti “MAKAN DAGING ANJING” catatan tentang perubahan pola makan di kalangan masyarakat Dayak Ngaju. Dulu tidak makan daging anjing sekarang makan daging anjing.

Bab 2 ditutup dengan tulisan tentang mitigasi dan adaptasi masyarakat Dayak Ngaju saat terjadi kerawanan pangan dan tentang sayur-mayur.

Bab 3 merupakan catatan refleksi saya atas kegiatan pendampingan selama tiga tahun bersama para perempuan di tiga desa di tepi sungai Katingan. Pada bagian ini saya memperlihatkan kaitan penting antara perempuan dan hutan yang dilihat dari piring nasi atau makanan.

Pada Bab 4, saya menghubungkan semua urusan “kampung tengah” di Kalimantan Tengah dengan issue global yaitu pertarungan antara slow food dan fast food.

Saya berharap nanti ada seseorang mumpuni yang akan membuat EPILOG dari kumpulan catatan etnografis ini.

***

Dengan sengaja, KENCENG-KETEL dipilih menjadi judul buku. KENCENG adalah kuali atau periuk untuk menanak nasi, sedangkan KETEL adalah panci untuk memasak sayur. Dari sanalah bermula catatan-catatan etnografis saya.

Tags:

0 thoughts on “KENCENG-KETEL: Catatan Etnografi Tentang Masak-Memasak di Kalangan Masyarakat Dayak Ngaju

Leave a Reply

Your email address will not be published.