SHOPPING CART

close

DAPUR DAYAK DAN GLOKALISASI

Globalisasi, modernisasi, teknologi apapun namanya, juga masuk dan merasuk ke dapur Dayak. Memang tidak dominan karena yang global juga mengalami penjinakan dalam satu proses yang disebut GLOKALISASI.

Orang Dayak bukanlah aktor yang pasif, mereka tidaklah diam dan mati tenggelam. Mereka berenang atau berproses dalam artian beradaptasi, berinovasi, dan bermanuver dalam arus perubahan zaman itu. Mereka melakukan GLOKALISASI atas fakta GLOBAL yang datang dalam kehidupan mereka.

Tentu saja kalau ditanya mereka tak akan menjelaskan seperti itu. Mereka menyebutnya “Uka sama kilau oloh kea” (Agar seperti orang lain juga). Karena itu mereka tak sungkan atau enggan membeli peralatan dapur modern. Mulai dari pernak-pernik peralatan plastik yang membuat gelisah orang Dayak kota, hingga peralatan elektronik seperti lemari pendingin (kulkas), mesin penggiling (blender) dan kompor gas.

Tentunya, itu tidak original, tidak otentik. Itu adalah hasil peniruan atas budaya orang kota. Mereka membeli dan memakainya hanya untuk dipakai sementara. Hanya untuk memperlihatkan bahwa mereka juga tak ketinggalan, sama seperti orang lain juga (sama kilau oloh beken kea).

Ketika peralatan itu rusak, mereka kembali kepada peralatan mereka semula dan tidak membeli yang baru sebagai pengganti. Tetapi barang yang rusak itu, tidak dibuang, tetap dipajang sebagai bukti.

Suatu ketika saya masuk ke dalam dapur seorang ibu yang ingin memperlihatkan kepada saya bagaimana cara memasak sagu. Di dapurnya ada kompor gas, oven untuk memasak kue, dan kulkas atau lemari pendingin. Setelah dapat izin dari ibu rumah tangga, saya membuka kulkas itu. Di dalamnya saya temukan lipatan kain, bibel dan ijazah serta surat penting lainnya.

Dapur Dayak. Di sini yang lokal dan global duduk bersanding. Di sini ada yang bertambah, namun ada juga yang tak berubah. [*MM*].

Tags:

0 thoughts on “DAPUR DAYAK DAN GLOKALISASI

Leave a Reply

Your email address will not be published.